Keutamaan Fatimah binti Rasulullah

Keutamaan Fatimah binti Rasulullah – Fatimah merupakan anak yang paling dekat dengan Rasulullah sekaligus menjadi anak kesayangannya.

Pada perang Uhud, Fatimah radhiallahu ‘anha merupakan salah satu mujahadah yang turun ke medan perang untuk mengobati para mujahid yang terluka. Ia dengan gagah berani turun ke medan peperangan bersama para mujahadah lainnya.

Ketika melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam  terluka, Fatimah radhiallahu ‘anha lalu memeluk dan mencuci lukanya dengan air, sehingga makin banyak darah yang keluar. Melihat hal itu, Fatimah radhiallahu ‘anha lalu mengambil sepotong tikar dan mebakarnya. Tikar yang terbakar itu lalu ia bubuhkan pada luka baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hasilnya luka tersebut berhenti mengeluarkan darah.

Selain itu, Fatimah binti Rasulullah juga banyak membantu urusan kaum muslimin lainya dalam medan Perang Uhud. Banyak para mujahidin yang terkena luka sabetan pedang, terkena panah atau tertusuk tombak. Fatimah binti Rasulullah lalu mengakomodir logistik, menyediakan air minum dan mengobati para mujahid yang terluka.

Fatimah radhiallahu ‘anha keluar bersama 14 orang mujahadah lainnya termasuk Aisyah radhiallahu ‘anha dan Ummu Sulaim binti Milhan radhiallahu ‘anha untuk memberikan pertolongan pada kaum muslimin dikala Perang Uhud. Ia juga mengangkut air dan perbekalan lainnya di atas punggungnya demi memberi makan dan menolong kaum muslimin dalam berperang membela agama Allah subhanahu wata’ala.

Masa Kecil Fatimah binti Rasulullah

Fatimah tumbuh besar dalam rumah tangga yang penuh kasih sayang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa menjaga dan mendidik Fatimah dengan baik agar nantinya ia memiliki sifat yang baik, terpuji dan lemah lembut.

Dengan sifat-sifat demikianlah Fatimah radhiallahu ‘anha tumbuh menjadi wanita terhormat yang sempurna jiwanya. Ia juga memiliki wibawa dan berakhlak mulia sama seperti ayahnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi contoh langsung bagi Fatimah.

Saat usia Fatimah menginjak 5 tahun, terjadi hal besar yang merubah kehidupan dan keluarganya. Ayah tercintanya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi nabi terakhir dengan turunnya wahyu dari Malaikat Jibril.

Ketika itulah ujian dakwah turut juga dirasakan oleh Fatimah. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana beratnya perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada masa awal perjuangan dakwahnya. Ia juga turut serta membantu orangtuanya dalam menghadapi marabahaya dari para musuh islam.

Fatimah juga melihat sendiri bagaimana tipu daya orang kafir pada ayah tercintanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika mampu, ia ingin melindungi ayahnya itu dengan nyawanya. Sayangnya pada saat itu ia belum sanggup karena masih kecil.

Diantara berbagai penderitaan yang ia alami sewaktu kecil ialah pemboikotan kejam yang dilakukan oleh kaum musyrikin kepada kaum muslimin. Pemboikotan itu membuat ia dan keluarganya kelaparan, hal ini sangat berpengaruh pada kesehatannya. Hasilnya, Fatimah memiliki fisik yang terbilang lemah.

Hal paling berat yang ia rasakan adalah ketika ibunda tercintanya Khadijah radhiallahu ‘anha meninggal  ketika masih dalam masa pemboikotan yang dilakukan oleh kaum musyrikin. Jadilah ia mengalami penderitaan sekaligus kesedihan yang luar biasa karena ditinggal ibunya.

Selepas meninggalnya ibunda Khadijah radhiallahu ‘anha, Fatimah merasakan ada tanggung jawab baginya untuk menjadi pengganti ibunya. Ia lalu melanjutkan perjuangan ibunya dalam mengurus dan membantu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah dijalan yang keras dan sukar. Hal ini terasa semakin berat setelah wafatnya paman nabi yaitu Abu Thalib yang senantiasa membela Rasulullah semasa hidupnya.

Tentunya hal ini menambah beban perjuangan Fatiman menjadi berlipat ganda. Akan tetapi beban seberat ini tak menyurutkan niat Fatimah untuk membantu dakwah ayahnya, malahan ia maju sebagai penggati tugas ibunya dalam mendampingi ayahnya. Ini membuat Fatimah binti Rasulullah mendapat gelar “Ibu dari ayahnya”(dikutip dari Al-Ishabah dan Asadul Ghabah (VII/25)).

Perjuangan dan pengorbanan Fatimah dalam membela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyebarkan agama Islam tentunya lebih berat dari perjuangan dakwah kita. Semoga kisah ini dapat menjadi tauladan dan penyemangat kita agar semakin gencar berdakwah menebar kebaikan.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply