Makna yang Terkandung Di Dalam Karya Sastra Gurindam 12

Gurindam 12 – Sebagaimana yang sudah pernah kami bahas di artikel sebelumnya tentang “Penjelasan Lengkap: Definisi, Ciri-ciri dan Contoh Gurindam”. Maka di artikel kali ini kami akan menjelaskan makna yang terkandung pada gurindam 12 (dua belas).

Namun sebelum membahas gurindam 12 ada baiknya kita bahas sedikit tentang pengertian gurindam.

Gurindam adalah salah satu bentuk karya satra lama yang berasal dari negara India Selatan. Jika ditelusuri lebih dalam girundam bagian dari puisi lama yang memiliki pengaruh dengan agama Hindu.

Adapun seiring berjalannya waktu gurindam perlahan-lahan mulai ada perubahan dari segi isi yang semula ada pengaruh Hindu menjadi pengaruh Islam. Gurindam masuk dan berkembang di Indonesia pada abad ke 19.

Salah seorang sastrawan yang sangat terkenal dengan gurindamnya adalah Raja Ali Haj. Tulisannya yang plaing populer sampai sekarang adalah gurindam 12. Yang mana terdiri dari 12 pasal-pasal dengan 60 bait.

Jika kita pahami lebih dalam lagi isi yang terkandung pada gurindam merujuk kepada petuah-petuah atau nasihat-nasihat. Dimana nasihat ini berisi kewajiban seseorang terhadap Tuhan, orang tua, suami, istri, anak, teman maupun pergaulan di masyarakat.

A. Sejarah Gurindam 12 (Dua Belas)

Sejarah Gurindam Dua Belas

rofiquez.wordpress.com

Gurindam 12 adalah karya satra berbentuk puisi lama yang diciptakan oleh seorang penyair bernama Raja Ali Haj. Beliau menyelesaikan karya sastra ini di Pulau Penyengat, Provinsi Kepelaun Riau.

Perlu diketahui bahwa Raja Ali Haj lahir pada tanggal 23 Rajab 1263 H atau bertepatan pada tahun 1847 M. Beliau dikenal sebagai seorang sastrawan yang paling berpengaruh di masanya sehingga berkat karyanya tersebut Raja Ali Haj dinobatkan sebagai salah satu pahlawan Nasional.

Uniknya Gurindam 12 yang beliau ciptakan ini adalah sebagai hadiah mas kawin untuk salah seorang putri yang cantik bernama Engku Puteri Hamidah yang mana tinggal satu pulau dengan beliau yaitu di Pulau Penyengat.

Raja Ali Haj menuliskan karya sastranya tersebut di marmer yang kemudian dipahatkan sebagai tanda atau bukti kecintaannya kepada wanita tersebut di usianya 38 tahun. Inilah asal muasal  sebab terciptanya gurindam 12.

Dikatakan gurindam 12 karena karyanya ini terdiri dari 12 pasal dan masuk kedalam kategori puisi didaktik atau istilah arabnya “Syi’r al-Isrsyadi”.

Makna puisi didaktik adalah puisi yang berisikan nasihat-nasihat atau petuah-petuah sebagai petunjuk jalan yang diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala. Sehingga jangan heran bagi kita apabila membaca gurindam tersebut yang kental akan nilai keislaman.

Nilai keislaman yang dapat kita amati di dalam karya sastranya tersebut adalah berisikan nilai tasawuf yang merujuk kepada syari’at, ma’rifat, tarikat dan hakikat.

B. Riwayat Hidup Raja Ali Haji Pencipta Gurindam 12 (Dua Belas)

Riwayat Hidup Raja Ali Haj

tanjungpinangbintanisland.blogspot.com

Raja Ali Haji bin Haji Ahmad adalah seorang ulama, ahli sejarah, pujangga dan ahli sastra yang dilahirkan Pulau Penyengat, Kepulauan Riau.

Raja Ali Haji dilahirkan pada tahun 1808 dan meninggal pada tahun 1873. Dia merupakan seorang penyair dan juga seorang pencatat pertama dasar-dasar bahasa melayu dari karyanya berjudul Pedoman Bahasa.

Berkat jasa beliaulah akhirnya bahaya melayu ditetapkan sebagai bahasa nasional negara republik Indonesia yang gelas pada kongres pemuda pada tahun 1928.

Maha karya terbesarnya adalah Gurindam dua belas yang berhasil diterbitkan pada tahun 1847 yang juga merupakan sastra pembaharu pada zamannya.

Meskipun Raja ALi Haji menempuh pendidikan arab namun ia tetap mengekalkan bahasa melayu klasik yang telah banyak dipengaruhi oleh struktur arab.

Selama masih kecil yakni bertepatan pada tahun 1822 Raja Ai Haji dibawa oleh orangtuanya ke Jakarta (Betawi) yang pada saat itu menjadi utusan Riau untuk menjadi Gabenor Jeneral Baron van der Capellan.

Berulang kali orangtua mengajaknya ke Betawi dimanfaatkan oleh Raja Ali Haji untuk memperdalam ilmu agama terutama ilmu tentang hukum islam yakni Fiqh.

Antara ulama Betawi yang dia ikut menimba ilmu antara lain Sayyid Abdur Rahman al-Mashri. Kemudian selain daripada itu dia juga banyak berteman dengan seorang sastrawan dari Belanda diantaranya T. Roode dan Van Der Waal.

Dengan banyaknya ilmu agama yang dipelajarinya maka ia pun turut andil dalam mengamalkan ilmu tersebut dengan memberikan pelajaran kepada berbagai muridnya.

Pelajaran yang dia ajarkan antara lain ilmu nahwu, sharaf, ushuluddin, fiqh dan ilmu tasawuf. Sehingga tak heran di zamannya beliau merupakan ulama yang menjadi rujukan dalam msalah-masalah keislaman.

Raja Ali Haji meninggal pada tahun 1873. Kemudian pada tahun 2006 pemerintah republik Indonesia yang pada saat itu dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan beliau sebagai pahlawan negara.

C. Ciri-ciri Gurindam 12 (Dua Belas)

Ciri Gurindam 12

berkahkhair.com

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa gurindam 12 itu terdiri dari 12 pasal yang mengandung nilai keislaman. Nilai-nilai setiap pasalnya itu dapat kita kategorikan menjadi 5 ciri utama, yaitu:

A. Rangkap

Coba perhatikan setiap pasal di gurindam 12 saling terkait yang kami istilah dengan rangkap (satu kesatuan). Setiap baris berisi syarat maupun makna yang saling melengkapi dan berkesinambungan.

Adapun pada baris pertama itu berisikan syarat atau soal yang menjelaskan suatu peristiwa, kondisi atau ide. Sedangkan pada baris kedua berisikan makna atau jawaban yang menjelaskan soal dari baris pertama.

B. Perkataan

Jumlah kata setiap baris yang terdapat di 12 pasal tidak tetap. Artinya adalah acak namun tetap menjawab persoalan dari baris pertama.

C. Suku Kata

Sama hal dengan kategori kedua yaitu tetap. Terkadang kita dapati jumlah kata yang sedikit dan juga banyak. Artinya tidak ada pola yang merumuskan karya sastra lama tersebut.

D. Rima

Rima merupakan kata yang terjadi pengulangan bunyi namun selang-seling. Dapat ditemukan pada sajak maupun di akhir larik yang saling berdekatan. Pada gurindam 12 tidak ditemukan rima yang saling terikat baik itu dimulai dari sajak maupun diakhiri dengan larik.

E. Setiap Bait Memiliki Makna

Pada gurindam 12 terdiri dari 12 pasal yang mana setiap bait terdiri dari 2 baris. Setiap bait ini mengandung makna tersendiri. Maka jangan heran setiap pasal mengandung makna yang tersendiri. Meskipun begitu secara umum seluruh pasal memuat petuah atau nasihat.

D. Arti Setiap Pasal Gurindam 12 (Dua Belas)

Ciri Gurindam 12 (Dua Belas)

berkahkhair.com

Pasal 1 (Satu)

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.

Pada pasal satu ini menjelaskan kepada pembaca bahwa apabila hidup tidak mengenal agama yakni Tuhan, maka hidupnya abu-abu, tidak ada tujuan hidup. Sehingga hari-harinya diliputi dengan kerisauan dan kegelisahan.

Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.

Arti mengenal yang empat ini adalah terkait dengan ajaran tasawuf yaitu syari’at, ma’rifat, tarikat dan hakikat. Apabila manusia telah mengenal yang empat ini maka hiduppun akan semakin terang tanpa ada sedikit rasa was-was.

Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegaknya* tiada ia menyalah.

Maknanya adalah apabila kita mengenal Allah, maka selayaknya kita sebagai hamba-Nya melaksanakan dan menjauhi perintah-Nya. Inilah konsekuensi kita sebagai hamba. Apabila tidak kita laksanakan perintah-Nya maka sedikitpun Allah tidak merasa dirugikan.

Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang terpedaya.

Allah menciptakan dunia hanyalah tempat manusia untuk meraup pahala agar bisa masuk ke jannah-Nya. Namun banyak manusia terperdaya akan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Sehingga orientasi manusia adalah duniawi saja dan lupa akhirat sebagai tempat kembali.

Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.

Hakikat kita sebagai hamba adalah menyembah Allah, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Apabila kita sudah mengenal tujuan hidup akan terasa indah dan nyaman.

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat.

Hidup di dunia ini hanyalah sesaat sedangkan tempat kembali sesungguhnya adalah akhirat. Namun sebelum kita menuju ke kampong akhirat maka persiapkanlah bekal selama di dunia ini.

Pasal 2 (Dua)

Pada gurindam 2 ini berisikan perintah untuk senantiasa menjalankan rukun islam diantaranya syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji

Barang siapa mengenal yang tersebut,

Tahulah ia makna takut.

Apabila kita sudah mengenal Allah, Dan kita sadar bahwa Allah memantau kita. Maka tidak ada celah untuk bermaksiat. Dengan begitu kita selalu berusaha menjalankan perintah-Nya dengan baik dan menjauhi segela larangan-Nya.

Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.

Shalat adalah tiang agama. Dengan melaksanakan shalat berarti kita sedang menegakkan agama Allah.

Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.

Puasa adalah perintah yang berikan kepada orang yang beriman. Esensi dari puasa adalah menuju menjadi orang yang bertakwa. Apabila ditinggalkan maka akan rugi dunia dan akhirat.

Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.

Zakat adalah penyuci jiwa dan harta. Menunaikan zakat berarti telah meringankan beban umat. Dengan begitu hati maupun harta akan menjadi berkah.

Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Mengerjakan haji merupakan rukum islam yang kelima. Dengan menyempurnakan rukun islam yang kelima ini artinya kita sebagai hamba telah menyempurnakan islam.

Pasal 3 (Tiga)

Pada pasal 2 ini berisikan akhlak yaitu hal yang harus dilaksanakan sebagai seorang manusia dalam bersosial.

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.

Apabila kita mampu memelihara mata maka hal yang tidak bermanfaat enggan untuk dilihat. Sebab dosa dimulai dari penghilangan baru kemudian tindakan.

Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadalah damping*.

Telinga yang kita miliki ini haruslah senantiasa menjaganya dari hasutan, gunjingan maupun kedustaan.

Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.

Selayaknya ucapan yang keluar dari mulut adalah perkataan baik dan bermanfaat. Sehingga orang akan merasa mendapatkan faedah dari apa yang diucapkan.

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.

Hindarilah perbuatan yang mengambil barang yang bukan hak kita. Dari tanganlah ini bermula, apapun bentuk barang tersebut apabila bukan punya kita maka tidak ada kita terhadapnya.

Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il* yang tiada senonoh*.

Kita memang dianjurkan untuk makan, namun jangan sampai terlalu kenyang. Apabila kenyang akan menyebabkan produktifitas dalam bekerja bisa menurunm kantukpun menyerang dan malaspun menghinggap di badan.

Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Dalam kehidupan yang kita jalani maka mulailah dengan penuh semangat. Dengan semangat aktivitas akan menjadi bermanfaat.

Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi

Gunakanlah kaki ke arah yang bermanfaat, misalnya mencari nafkah, pergi ke masjid. Sebab setiap langkah yang kita niatkan dengan baik maka akan bernilai pahala.

Pasal 4 (Empat)

Pasal 4 berisikan tabiat manusia agar selalu dijaga kearah yang lebih mulia.

 Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.

Segala perbuatan dimulai dari hati, apabila hati sudah rusak maka rusaklah seluruh amalan. Namun hati sudah baik maka baiklah suatu perbuatan yang dilakukan.

Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.

Hati yang kotor akan selalu dihiasi dengan rasa dengki sehingga akan merugikan diri sendiri.

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.

Pujian manusia itu aalah semu.pujilah karena kebaikan yang dia lakukan namun jangan berlebihan. Banyak orang dipuji menyebakan dia selalu berbangga diri dan mucul keseombonga.

Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.

Hendaklah munyelaikan masalah yang datang dengan  kepala dingin. Sebab amarah itu datangnya dari setan.

Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.

Sedikit saja kita berbohong, maka akan mencelakan dirinya sendiri. Cepat aatu lambat kebohongan tersebut akan diketahui.

Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.

Orang yang paling celaka adalah orang yang tidak menyadari kesalahan pada dirinya sendiri.

Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.

Pelit adalah sifat keji yang akan menguras harta diri sendiri.

Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.

Apabila kita sudah dewasa selayaknya dapat menjaga perbuatan buruk.

Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.

Ucapan kotor adalah sifat tercela yang banyak orang akan menjauhinya. Hendaklah kita selalu menjaga setiap ucapan kita dengan ucapan yang halus.

Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi*.

Apabila kita berbuat salah maka segeralah minta maaf, agar dosa yang di lakukan segera diampuni.

Pasal 5 (Lima)

Berisikan pentingnya menuntut ilmu, memperluas pergaulan dan bergaul dengan kaum terpelajar

Jika hendak mengenal orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,

Orang yang berbudi pekerti luhur dapat dinilai dari bahasa dan perilkunya

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.

Orang yang bermanfaat adalah orang yang mampu menjaga tangan dan lisannya dari perbuatan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.

Orang yang baik sanagt mudah dikenali yaitu dengan melihat perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.

Ilmu itu didapat dengan belajar dan berusaha tanpa henti

Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.

Orang berakal itu adalah orang yang telah menyiapkan bekal selama di dunia untuk menuju ke kampong akhirat yang abadi.

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai*,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Perilaku seseorang baik atau buruknya dapat dilihat saat dia bersosial dengan orang di sekitar.

Pasal 6 (Enam)

Berisikan agar selalu mencari sahabat yang baik-baik saja menghindari pergaulanyang buruk.

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.

Carilah sahabat yang dapat dijadikan obat penawar disaat luka melanda

Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.

Carilah guru yang dapat membimbing kita disaat kita lagi tidak tahu kan suatu hal.

Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.

Carilah istri yang dapat mengingatkan kita untuk selalu taat kepad Allah.

Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.

Bijaklah dalam mencari kawan yang dapat menjaga persaudaraan bukan lawan yang dapat merusak hubungan.

Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,

Carilah pembantu yang setia dan baik bukanlah yang sombong lagi bruk akhlkanya.

Pasal 7 (Tujuh)

Berisikan nasihat agar orang tua memperhatikan akhlak anak sedini mungkin. Misalnya saja dalam berkata-kata maka hindari kata yang mengadnung dusta. Dan juga agar tidak terlalu berlebihan dalam segala hal.

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta,

Bait diatas menerangkan  bahwa selayaknya kita berbicara seperlunya saja. Karena lisan bisa diibaratkan seperti pisau bermata dua.

Apabila banyak berlebih-lebihan,
Itu tanda hampirkan duka,

Suatu hal yang kita harapkan secara berlebih-lebihan hanya akan membawa kekecewaan apabila hal itu tidak terwujud.

Apabila kita kurang siasat,
Itu tanda pekerjaan hendak sesat,

Setiap pekerjaan hendaknya dilakukan dengan persiapan yang matang dan penuh kehati-hatian. Jauhi ketergesa-gesaan karena hal itu datangnya dari syaitan.

Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih,

Anak yang tidak didik dengan pendidikan agama yang benar di masa kecil. Kelak ketika tumbuh dewasa orang tua akan menyesal masa tua.

Apabila banyak mencacat orang,
Itulah tanda dirinya kurang,

Hendak bersyukur apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Jangan suka mencaci atau mencela kekurang orang lain. Karena bisa jadi orang yang dicela lebih baik daripada orang yang mencela.

Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sajalah umur,

Hidup yang diberikan Tuhan harus dijalani secara produktif. Jangan sampai umru yang diberikan dihabiskan untuk melakukan suatu hal yang tidak berguna. Karena sejatinya waktu adalah harta yang berharga dan tidak bisa kembali lagi ke hal yang serupa.

Apabila mendengar akan kabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar,

Apabila mendengar suatu kabar buruk maka bersabarlah dan mengucapkan innalillahi wa innailahi raji’un. Karena apabila bersabar maka Allah akan mengampuni dosa dan menggantikannya ke hal yang lebih baik lagi.

Apabila mendengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan,

Jangan mudah percaya dengan suatu berita sebelum diteliti lebih lanjut. Karena bisa saja itu merupakan suatu kedustaan dan fitnah.

Apabila perkataan yang lemah lembut,
Lekaslah segala orang mengikut,

Seseorang itu dinilai dari sikap dan tutur katanya yang bijaksana dan lemah lembut. Sehingga dengan kedua hal tersebut orang akan menyukai dan mau mendengar apa yang disarankannya.

Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah sekalian orang gusar,

Perkataan yang kasar akan membuat orang semakin tidak suka dan menjauhinya.

Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat onar,

Jangan sesekali memfitnah seseorang sebelum ada bukti yang jelas.

 Pasal 8 (Delapan)

Berisikan agar menilai orang itu tetap dilihat dari perangainya. Jangan langsung menghukumi seseorang dengan tampilan fisik saja. Dan tidak mudah percaya terhdap orang yang baru dikenal serta tetap menjaga prangsaka baik.

 Pasal 9 (Sembilan)

Berisikan tentan adab seseorang pria maupun wanita dalam bergaul. Dan pria maupun wanita agar senantiasa menjaga pandangan dan diri terhadap godaan setaan yang selalu saja mengintainya. Tepislah godaan buruk tersebut dengan memperkuat ibadah dan perbanyak mengingat Allah.

Pasal 10 (Sepuluh)

Berisikan nasihat dan adab seorang anak terhadap orang tua yaitu bapak dan ibu. Menghormati mereka dan melaksanakan perintahnya selama tidak melanggar syari’at.

 Pasal 11 (Sebelas)

Berisikan petuah atau nasihat agar di tengah masyarakat selalu menjaga adab. Menjaga lisan, menjauhi amarah, memenuhi janji, memiliki rasa malu dan selalu bermuka ceria.

 Pasal 12 (Dua Belas)

Berisikan tentang tugas seorang raja, mentri maupun rakyat terhadap bangsa dan negranya. Segala aturan yang telah ditetapkan maka harus dipatuhi.

Begitu juga halnya sebagai seorang menteri mentaati perintah raja. Dan sebagai rakyat agar senantiasa mentaati aturan yang ada.

Demikianlah makna atau arti dari setiap pasal di Gurindam 12. Sehingga dapat kita tarik kesimpulan, isi gurindam 12 ini mengajak seluruh umat muslim agar senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Begitu juga menjaga adab di keluarga dan masyarakat.

E. Video Karya Sastra Lama Gurindam 12

Semoga bermanfaat. Terimakasih

  •  
    2
    Shares
  • 1
  •  
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  

2 Comments

  1. gina hayana Rab, 25 Mei 2016
    • Khair Rab, 25 Mei 2016

Leave a Reply