Penjelasan Lengkap, Pengertian dan Contoh Pantun Karmina

Contoh Karmina –  Salah satu karya sastra klasik yang hampir hilang di era modern ini ialah karmina. Bisa jadi sebagian orang tidak mengenal karmina. Karmina ialah bagian dari jenis pantun yang telah ada pada abad ke-16.

Disebut karmina karena karya sastra klasik ini hanya terdiri dari dua baris dengan sajak a – a. Pada baris pertama berisi sampiran dan baris kedua berisi pantun.

Seperti pada pantun umumnya karmina menggunakan kata atau kalimat kiasan pada bait pertama untuk mengumpamakan suatu objek atau perilaku sedangkan pada bait kedua berisi penjelasan yang merupakan isi dari pantun tersebut.

Pantun Klasik Karmina

pixabay.com

Pada bait kedua ini pembaca akan memahami maksud dari karmina sehingga mudah dipahami langsung. Di tengah masyarakat tradisional dahulu, karmina sering diucapkan oleh sebagian masyarakat guna menegur seseorang dengan lebih sopan. Namun kebanyakan orang tidak paham bahwa perumpaan itu merupakan jenis pantun karmina.

Pantun karmina biasa disebut juga dengan jenis pantun tidak langsung atau pantun kilat. Karena hanya terdiri dari dua baris dan gaya bahasanya lugas dan tepat sasaran.

Namun sayangnya di abad 21 ini banyak dari kita sudah melupakan karya sastra klasik ini. Oleh karena itu mari kita angkat kembali sastra dengan mempelajari dan mengajarkannya kepada anak cucu kita.

Asal Usul Pantun Karmina

Ciri-ciri Pantun Karmina Kilat

slideplayer.info

Asal usul karmina yakni berisi 4 baris lalu kemudian berubah menjadi dua baris. Dimana tiap baris bersuku kata empat atau lima. Untuk baris pertama tanpa koma dan titik, baris kedua dan ketiga di akhiri dengan koma dan baris keempat di tutup dengan titik. Seperti contoh di bawah ini:

Gula merah

lagi diparut,

Nafsu amarah,

jangan diturut.

Lalu dijadikan

Gula merah lagi diparut,

Nafsu amarah jangan diturut.

Ciri-Ciri Pantun Karmina

Ciri-ciri Pantun Kilat Karmina

slideplayer.info

  • Karmina terdiri dari 2 bait
  • Karmina memiliki sajak a – a atau b – b
  • Bait pertama disebut kiasan atau sampiran
  • Sedangkan bait kedua disebut isi atau makna
  • Pantun karmina hanya terdiri dari 4 – 12 suku kata
  • Antara sampiran ataupun isi tidak ada hubungannya
  • Berisi dua bait yang bertentangan yakni rayuan dan perintah
  • Baris pertama diawali dengan koma dan baris kedua ditutup dengan titik.

Contoh-contoh Karya Sastra Klasik Pantun Karmina

Contoh Pantun Kilat

slideplayer.info

Candi mendut rusak jalannya,

Orang gendut banyak makannya.

 

Situ bagendit jangan dicaci,

Kakek genit digoda banci.

 

Ikan kakap makan kepompong,

Banyak cakap suka bohong.

 

9di rumpun bambu ada buaya,

Kalau tak tahu hendaklah tanya.

 

Air panas di dalam panci,

Kurang pantas memuji diri.

 

Gendang gendut tali kecapi,

Kenyang perut senang hati.

 

Pinggan tak retak, nasi tak dingin,

Tuan tak hendak ,kami tak ingin.

 

Kayu lurus dalam gudang,

Kerbau kurus banyak tulang.

 

Ayam jago terbang ke awan,

Ayo kita menjadi kawan.

 

Ikan sembilang di balik batu,

Sudah dibilang jangan mengganggu.

 

Sudah gaharu cendana pula,

Sudah tahu bertanya pula.

 

Kura-kura dalam perahu,

Pura-pura tidak tahu.

 

Gelatik di pohon jati,

Cantik itu yang baik hati.

 

Gelatik mematuk ubi,

Cantik itu yang berbudi.

 

Gelatik dalam rumah,

Cantik itu yang ramah.

 

Gelatik hinggap di salak,

Cantik itu karena akhlak.

 

Gelatik mematuk polong,

Cantik itu suka menolong.

 

Gelatik burung kicauan,

Cantik itu karna beriman.

 

Mintalah obat pada kerabat,

Ikutlah nasehat agar selamat.

 

Ikan toman dalam sulaman,

Ikuti pedoman agar hidupmu aman.

 

Perahu layang tenggelam karam,

Dengan sembahyang hatimu tentram.

 

Buah kueni dimakan hewan,

Dunia ini bukan tujuan.

 

Talang betutu tempatnya padi,

Akhirat itu negeri abadi.

 

Bunga ditata di atas meja,

Hidup kita sementara saja.

 

Gabah itu bahan makanan,

Ibadah itu menyejukan.

 

Obor itu untuk dinyalakan,

Sabar itu tak terkalahkan.

 

Panah adalah senjata mati,

Qonaah adalah kekayaan sejati.

 

Di ayunan meminum suji,

Keberanian adalah akhlak terpuji.

 

Gula merah lagi diparut,

Nafsu amarah jangan diturut.

 

Kue apem di tangan penari,

Hati adem wajahnya berseri.

 

Ayun-ayunan sambil makan,

Lantunan quran menakjubkan.

 

Sudah jelatik tupai pula,

Sudah cantik pandai pula.

 

Ke siantar dengan teruna,

Sudah pintar parasnya arjuna.

 

Naik sampan ke sebatik,

Sudah tampan orangnya simpatik.

 

Ujung bendul, dalam semak,

Kerbau mandul, banyak lemak.

 

Sudah gaharu cendana pula,

Sudah tahu masih bertanya pula.

 

Dahulu parang sekarang besi,

Dahulu sayang sekarang benci.

 

Daun pandan sedap di masakan,

Badan kecil pasti sedikit makan.

 

Anak tersesat dicari ibunya,

Orang sesat susah hidupnya.

 

Dahulu parang sekarang besi,

Dahulu sayang sekarang benci.

 

Dahulu sedan sekarang mercy,

Dahulu teman sekarang isteri.

 

Ikan sembilang di balik batu,

Sudah di bilang jangan mengganggu.

 

Sirsak sirsak nangka belanda,

Pikiran rusak digoda janda.

 

Candi mendut rusak jalannya,

Orang gendut banyak makannya.

 

Situ bagendit jangan di caci,

Kakek genit digoda banci.

 

Sikap senohong gelama ikan duri,

Bercakap bohong lama-lama mencuri.

 

Tabtibau si puyuh padang,

Hilang pisau berganti parang.

 

Sebab pulut santan binasa,

Sebab mulut badan binasa.

 

Dahulu ketan sekarang ketupat,

Dahulu preman sekarang ustadz.

 

Pergi ke rawa ke muara pula,

Sudah tak juara tak sholat pula.

 

Buah nangka bentuknya bulat,

Sudah tua bangka belum ingat akhirat.

 

Kelapa diparut enak rasanya,

Biar perutnya gendut baik hatinya.

 

Ikan lele beli di pasar,

Persoalan sepele jangan diumbar.

 

Parfum dicium harum baunya,

Baca al-quran paham maknanya.

 

Tiada umat sepandai nabi,

Turutlah ilmu sebelum mati.

 

 

Gelatik di pohon lada,

Cantik itu berlapang dada.

 

Gelatik terbang ke awan,

Cantik itu karena dermawan.

 

Gelatik main di batu,

Cantik itu kalau membantu.

 

Ada jelaga di kereta,

Mata terjaga hati tertata.

 

Buahnya ranum kulitnya luka,

Bibir tersenyum banyak yang suka.

 

Tari saman indah gerakannya,

Tanda iman lapang dadanya.

 

Indah delman sunda kelapa,

Tanda iman berbakti ke ibu bapak.

 

Indah taman makan tajin,

Tanda iman kerjanya rajin.

 

Indahnya taman waktu temaram,

Tanda iman hidupnya tentram.

 

Indahnya taman di malangbong,

Tanda iman orangnya tak sombong.

 

Indahnya taman di kedah,

Tanda iman, orangnya merendah.

 

Indahnya taman tumbuh jati,

Tanda iman, tepati janji.

 

Indahnya taman di lima kelok,

Tanda iman, perangainya elok.

 

Indahnya taman di bengkalis,

Tanda iman, mukanya manis.

 

Indahnya taman, duduk di papan,

Tanda iman, lakunya sopan.

 

Indahnya taman alangkah sejuknya,

Yang beriman ada akidahnya.

 

Dahulu sedan sekarang mercy,

Dahulu teman sekarang istri.

 

Ada tempayan gede tutupnya,

Anak perawan gede kentutnya.

 

Iklan sembilang di balik batu.

Sudah dibilang jangan mengganggu,

 

Sirsak sirsak nangka belanda,

Pikiran rusak digoda janda.

 

Candi mendut rusak jalannya,

Orang gendut banyak makannya.

 

Siti bagendit jangan dicaci,

Kakek genit digoda banci.

 

Gendang gendut tali kecapi,

Kenyang perut senang hati.

 

Kayu lurus dalam ladang,

Kerbau kurus banyak tulang.

 

Pinggan tak retak, nasi tak dingin,

Tuan tak hendak, kami tak ingin.

 

Sikap senohong gelama ikan berduri,

Biasa berbohong lama-lama mencuri.

 

Kata dulang paku serpih,

Kata orang ia yang lebih.

 

Lain dulang lain kakinya,

Lain orang lain hatinya.

 

Hujung bendul dalam semak,

Sapi mandul banyak lemak.

 

Tabtibau si puyuh padang,

Hilang pisau berganti pedang.

 

Ke bilik ke dapur gulai pedas,

Iitk bertelur ayam menetas.

 

Sebab pulut santan binasa,

Sebab mulut badan binasa.

 

Ada udang ada garam,

Ada orang banyak macam.

 

Pohon jati burung dara,

Hati-hati saat bicara.

 

Naik bis bawa terompet,

Dalam bis banyak copet.

 

Kucing belang dalam tong,

Jadi orang tahu diri dong.

 

Pohon ditebang banyak semutnya,

Si abang banyak maunya.

 

Ada merpati berbulu bersih,

Hati-hati memilih kekasih.

 

Api disulut di pohon jati,

Lain di mulut lain di hati.

 

Ada tong rusak besinya,

Orang sombong susah hidupnya.

 

Tangkap ikan patah kailnya,

Kemunafikkan besar dosanya.

 

Ada banci main mata,

Rasa benci jadi cinta.

 

Cabe lombok buat melek mata,

Hei cowok jangan main mata.

 

Di dunia banyak orangnya,

Harta dunia bukan segalanya.

 

Nenek lansia mau kemana,

Jadi manusia hendaknya berguna.

 

Tupai mati kucing menguburkan,

Perasaan hati bukan untuk dimainkan.

 

Selat malaka banyak dermaga,

Anak durhaka tidak akan masuk surga.

 

Siapkanlah bekal menjelang wafat,

Dengan sebarkan ilmu yang bermanfaat.

 

Kiri kanan berbatang sepat,

Perut kenyang ajaran dapat.

 

Limau purut di tepi rawa,

Sakit perut sebab tertawa.

 

Dahulu parang,sekarang besi,

Dahulu sayang,sekarang benci.

 

Sudah garahu cendana pula,

Sudah tahu bertanya pula.

 

Jalan – jalan ke trotoar,

Walau kampungan tapi pintar.

 

Burung elang burung kutilang

Aku pulang membawa uang

 

Tas hitam di atas meja

Saya cakep siapa yang punya

 

Ciri-ciri Pantun Karmina Kilat

slideplayer.info

Demikianlah 100 contoh pantun karmina yang hampir hilang diingitan manusia. Dengan mempelajari pantun ini diharapkan kita bisa mengajarkan kepada anak didik kita. Agar karya sastra klasik ini tetap lestari. Semoga bermanfaat.

  •  
    1
    Share
  • 1
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply