4 Penyebab Doa Tidak Terkabul & 11 Cara Berdoa yang Benar Sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah

Cara Berdoa yang Benar – Saudara dan saudariku, semoga kiranya Allah subhanahu wata’ala menyayangi diriku dan juga dirimu. Beroda merupakan cara meminta kepada Allah agar terkabul permintaan setiap hamba.

Boleh jadi saudara dan saudariku, kesalahan dalam berdoa merupakan suatu sebab tak kunjungnya permintan kita terkabul. Maka dari itu, mengenali suatu bentuk kesalahan ketika berdoa merupakan suatu bentuk ikhtiar kita kepada Allah, agar kiranya Dia berkenan mengabulkan doa kita.

Saudara dan saudariku, tahukah engkau hal-hal apa saja kesalahan yang sering terjadi ketika berdoa? Marilah kita simak dan perhatikan tulisan kami penyebab doa tak kunjung terkabul.

A. 4 Penyebab Doa Tidak Terkabul

1. Tidak Khusyuk dan Merendah Diri Kepada Allah Ketika Berdoa

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf : 55)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala juga berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Al-Anbiya’: 90)

Dari dua firman Allah kita sebagai seorang hamba seharusnya bersikap khusyuk lagi merendahkan diri serta tawadhu’ dan juga menghadirkan hati ketika berdoa. Kesemuanya ini merupakan adab dalam berdoa.

Begitu juga, seorang yang berdoa maka sepantasnyalah memendamkan keinginan yang sangat dalam agar permohonannya dikabulkan Allah subhanahu wata’ala. Dan ia terus-menerus tanpa henti selalu meminta kepada-Nya.

Dalam setiap doa yang dipinta, maka seyoginyalah dia selalu menyempurnakn doanya serta memperbagus kalimat doanya, agar kiranya doa tersebut dapat terangkat menuju Dzat yang Maha Mengadakan Segala Sesuatu. Dan ia terus melakukannya hingga Allah mengabulkan doa-doanya.

Dalam hadist yang diriwaykan oleh Imam Ahmad yang dinilai hasan oleh AL-Mundziri, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Apabila kalian berdoa kepada Allah subhanahu wata’ala maka berdoalah kepada-Nya dengan penuh keyakinan dan optimis bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Karena sesungguhnya Allah azza wajalla tidaklah mengabulkan doa seorang hamba yang dipanjatatkan dari hati yang lalai.”

2. Tergesa-gesa, Putus Asa dan Merasa Doanya Tidak Terkabul

Ketiga sikap ini merupakan sebab penghalang terkabulnya doa. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Doa yang dipanjatkan oleh seorang hamba akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya pun berkata, “Sesungguhnya aku telah berdoa kepada Allah namun tak kunjung juga terkabul”.

Oleh karena itu saudara dan saudariku, sudah sepatutnya apabila seorang hamba berdoa, maka tanamkan dalam diri bahwa doa tersebut akan terkabul. Karena dia telah berdoa kepada Dzat yang Paling Dermawan dan Paling Mudah Memberi.

Allah subhanahu wata’ala berfirman di dalam Al-Qur’an berbunyi:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (Al-Mu’min: 60)

Ketahuilah saudara dan saudariku, apabila doa yang diapnjatkan tidak kunjung terkabul, maka pastikan kita tidak lalai dari 2 perkara berikut:

  • Bisa jadi ada perkara-perkara yang menghambat doa tersebut tidak terkabul, misalnya saja: memutus ikatan silaturrahmi, bersikap lalai ketika berdoa atau memakan makanan yang diharamkan. Maka secara umum perkara ini adalah penghalang terkabulnya doa.
  • Dan boleh jadi juga, doanya ditangguhkan atau dipalingkan dari kejelekan.

Hal ini sesuai dengan hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Tidaklah seorang muslim apabila berdoa tidak mengandung kemakssiatan dan juga pemutus silaturrahmi, melainkan Allah subhanahu wata’ala akan memberinta satu dari tiga perkara berikut ini:

(1) Doanya segera dikabulkan, (2) Akan disimpan baginya diakhirat atau (3) Dirinya akan dijauhkan dari kejelekan yang mana serupa dengan apa yang dia minta.

Kemudian para sahabat radhiallahu ‘anhu bertanya, “Jika begitu kiranya, maka kami akan banyak berdoa.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapi, “Allah subhanahu wata’ala lebih banyak untuk mengabulkan doa-doa kalian. (Hadist ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid)

3. Berdoa Dengan Kedudukan yang Dimiliki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Bertawassul Terhadapnya

Saudara dan saudariku yang dirahmati Allah subhanahu wata’ala. Ketahuilah tindakan semacam ini merupakan suatu kesesatan dan bentuk kesalahan dalam berdoa.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak pernah mengajarkan para sahabat model berdoa seperti ini. Karena ini menerangkan bahwa ini merupakan perkara bid’ah atau mengada-ada dalam suatu ibadah.

Demikian juga terhadap segala sarana yang berlebih-lebihan atau ghuluw yang mana akan menyebabkan doa terhalang untuk dikabulkan.

4. Bersikap Zalim Dalam Berdoa

Wahai saudara dan saudariku, bersikap zalim dalam berdoa merupakan sebab penghalang terkabulnya doa. Contohnya saja doa yang berisi perbuatan maksiat atau dosa bahkan pemutus hubungan kekerabatan dengan muslim lainnya.

Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Akan datang suatu kelompok manusia yang zalim dalam berdoa.” (H.R Abu Daud. Hadist Hasan Shahih)

Padahal Allah subhanahu wata’ala telah berfirman yang berbunyi,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf : 55)

Contoh lainnya dari sikap zalim atau lalim yakni memohon kepada Allah azza wajalla agar bisa melakukan perbuatan maksiat, agar ditimpakan suatu azab atau bencana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam 14 abad yang lalu telah mengingatkan kepada kita dalam sabdanya,

“Di muka bumi ini, tiada seorang muslim yang apabila memohon kepada Allah azza wajalla melainkan Allah pasti akan memberi hal yang diinginkannya atau Allah subhanahu wata’ala akan memalingkan kebirikan yang senilai dengan isi permohonannya.

Apabila sepanjang doa yang dia pinta tidak mengandung unsur dosa maupun pemutus kekerabatan. (H.R Turmudzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Sahabatku, pada point ini mengingatkan kepada kita bahwa bersabarlah dalam menanti terkabulnya doa, marilah kita perbanyak amalan shaleh yang dengan amalan tersebut akan terwujudnya doa.

Begitu juga akan dijaukannya segala keburukan atau kejelekan dan terulah bangun sikap optimis terhadap doa yang dipinta. Semoga Allah subhanahu wata’ala merahmati kita.

Kita akhiri bab ini dengan rangkaian doa kepada Allah subhanahu wata’ala agar Dia tidak menolak doa-doa kita.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya hamba berlindung dari ilmu yang tidak berfaedah, dari hati yang selalu lalai (khusyu) dan juga dari qalbu yang tidak pernah merasa puas serta dari doa yang tidak terkabul. (H.R. Muslim, shahih).

B. 11 Adab/Etika Dalam Berdoa yang Benar

Adab Berdoa

konsultasisyariah.com

I. Memuji Allah subhanahu wata’ala dan Bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Ini merupakan awal memulai doa. Maka kiranya kita mendahulukan saat berdoa adalah memuji keagungan Allah subhanahu wata’ala dengan nama-nama-Nya yang indah. Memberikan sanjungan dan juga pengagungan dengan kedudukan Allah Yang Mahasuci.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

Pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk kemudian masukkalh seorang pemuda. Pemuda tersebut kemudain mengerjakan shalat dan berdoa.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan berikanlah kasih sayang-Mu (rahmat) kepadaku.” Lalu kemudian Rasulullah bersabda, “Engkau telah tergesa-gesa wahai tengah orang yang berdoa.”

“Jika engkau telah melaksanakan shalat lalu setelah itu kamu duduk dan berdoa, maka dahulukan pujian kepada Allah azza wajalla  dan setelah itu bershalawatlah kepadaku. Dan kemudian berdoalah”

Setelah itu datang pemuda yang lain, setelah dia melakukan shalat maka berdoa dengan memuji Allah subhanahu wata’ala  dan bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi pun berkata kepadanya,

“Wahai orang yang sedang berdoa, mintalah kepada Allah azza wajalla niscaya Dia akan mengabulkan setiap doa-doamu. (H.R. At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al-Albani)

II. Berprasangka Baik (Husnudzan) kepada Allah

Sahabtku, Ingatlah firman Allah subhanahu wata’ala yang berbunyi,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S. Al-Baqarah: 186)

 

Dari firman diatas bahwa Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia dekat dengan kita dan Allah bersama kita dengan Ilmu-Nya atau pengetahuan-Nya, pengawasan-Nya dan penjagaan-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kita agar menyerahkan segala bentuk doa hanya kepada Allah semata dan merasa benar-benar yakin bahwa doa tersebut terkabul

Lagi-lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ.

“Mintalah kepada Allah azza wajalla  dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya doa.” (H.R. At-Rimidzi, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)

Penjelasan hadist diatas ialah bahwa kita harus merasa yakin dan percaya Allah dengan segala kemurahan-Nya dan segala karunia-Nya yang agung dantiada terbatas tidak akan mengecewakan seorang hamba yang sedang berdoa.

Apabila seorang hamba tersebut meminta dengan penuh harap, ikhlas maka Allah akan mengabulkannya. Berbeda halny apabila seorang hamba tidak percaya dan yakin maka apa yang dia pinta tidak akan dikabulkan.

III. Mengakui dan Meyesali Setiap Dosa yang Pernah Diperbuat

Saudara dan saudariku, ini merupakan suatu sikap sempurnanya penghambaan kepada Allah. Kita menyadari bahwa diri ini oenuh dengan dosa. Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya Allah sangat mengagumi seorang hamba apabila ia berkata, “Tiada sesembahan yang haq kecuali hanya kepada Engkau, dan sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku, sebab tidak yang mengampuni dosa-dosaku kecuali Engkau ya Allah.

Maka Allah berfirman, :Hamba-Ku telah menyadari dan mengakui bahwa baginta ada Rabb yang mengampuni setiap dosa dan menghukum. (H.R. Al-Hakim. Dishahihkan oleh syaik Al-Albani)

IV. Giat dan Bersungguh-sungguh Ketika Berdoa

Maksud dari kata sungguh-sungguh disini adalah bahwa ketika seorang hamba berdoa makan minta terus-menerus tanpa ada kata letih dan mohonkanlah kepada Allah dengan mendesak.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ وَلاَيَقُوْلَنَّ اللّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ

“Apabila seseorang diantara kalian berdoa dan memohon maka hendaklah minta dengan bersungguh-sungguh kepada Allah azza wajalla dan janganlah sesekali berkata,

“Ya Allah. Jika kiranya Engkau sudi maka kabulkanlah doa dan permohonanku, karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Engkau.” (H.R. Bukhari. Shahih)

V. Berdoa pada Waktu yang Mustajab

Mustajab adalah waktu dimana doa pasti dikabulkan. Maka ketahuilah sahabatku waktu mustajab itu ada 9 keadaan diataranya:

(a) Pada waktu 1/3 malam terakhir. (b) Diantaranya adzan dan qamat (c) Di sela-sela sujud (d) Sewaktu adzan berkumndang (e) Sewaktu terjadi peperangan yang dahsyat (f) Ketika waktu ashar hingga terbenam matahari hari Jum’at (g)Pada waktu hari Arafah (h) Sewaktu hujan turun (i) Dan ketika 10 malam terkahir bulan Ramadhan (rujuk kitab Ad-Dua, karya Abdullah Al-Khudari)

Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Allah subhanahu wata’ala turun ke langit dunia pada setiap malam, ketika tinggal tersisa sepertiga malam yang terkahir.

Maka Allah berfirman, “Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan, Barangsiapa yang meminta niscaya akak Aku beri dan barangsiapa yang memohon ampunan pasti akan Aku ampuni. (H.R. Muslim)

VI. Menghadap Ke Arah Kiblat dan Mengangkat Kedua Tangan

Dari sahabat yakni Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sewaktu berdoa di Padang Arafah maka beliau mengangkat tangannya, dan menghadap kiblat hingga terus berdoa sampai matahari terbenam. (H.R. Muslim)

Hadist lain juga menunjukkan kepada kita bahwa mengangkat tangan ketika berdoa adalah suatu hal yang dibolehkan. Yakni dari Salma radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnta Allah itu Malu dan Maha Memberi. Dia malu kepada setiap hamba-Nya Apabila mengangkat tangan kepada-Nya dan kemudain kembali dengan tangan kosong atau tidak dikabulkannya doa. (H.R. Abu Dawud)

VII. Berdoa dengan Pengulangan Sebanyak Tiga Kali

Sebagaimana telah tertuang dalam suatu hadist shahih dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berujar,

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari mengerjakan shalat, beliau mendoakan kejelakan bagi mereka dan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa maka diulang sebanyak tiga kali.

Lalu kemudian Rasulullah berdoa, “Ya, Allah, atas-Mu ku serahkan kaum Quraisy, Ya, Allah, atas-Mu ku serahkan kaum Quraisy, Ya, Allah, atas-Mu ku serahkan kaum Quraisy. (H.R. Bukhari)

VIII. Berdoa Dengan Suara Pelan (Lirih)

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi,

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا
Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. (Al-Isra’: 110)

Firman yang senada juga tertuang dalam surah Maryam yang berbunyi

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

Yang dibacakan ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (Q.S. Maryam: 2-3)

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman dalam surah yang lain yang berbunyi,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf : 55)

Pernah suatu ketika di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat berdzikir dengan teriak-teriak. Lantas mendengar hal yang demikian Rasulullah bersabda,

Hai manusia sekalian, kasihinilah diri kalian. Karena sesunggunya kalian tidaklah menyeru atau menaggil kepada Dzat yang tuli lagi tidak ada. Ketahuilah sesunguhnya Allah subhanahu wata’ala bersama kalian, Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. (H.R. Bukhari)

IX. Berdoa dengan Ucapan yang Singkat namun Mankanya Sangat Luas

Ucapan yang singkat dan luas adalah suatu lafazh yang memiliki ucapan yang bermanfaat dan ringkas yang menunjukkan makna yang menyeluruh.

Dari istri beliau Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa,

Rasulullah sangat menyukai berdoa dengan doa yang singkat namun padat makna sangat luas dan tidak berdoa dengan hal yang selain itu. (H.R. Abu Dawud. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Apabila Rasulullah berdoa, maka doa yang dipanjatkannya ialah,

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَشَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ

Ya Allah, Sesungguhnya hamba berlindung kepada-Mu dari kejelekan (keburukan) apa-apa yang telah aku lakukan dan juga dari kejelekan apa yang belum aku lakukan. (H.R. Muslim. Shahih)

Contoh doa lain yang pernah Rasulullah panjatkan ialah sebagaimana dalam hadist Abu Musa Al-Asyari, Nabi Muhammad beliau senantiasa memanjatkan doa sebagai berikut,

Ya Allah, berikanlah pengampunan kepadaku atas seluruh kesalahanku, kebodohanku serta sikap yang berlebihan dalam segala urusanku karena sesungguhnya Engkau lebih mengetahui dari diriku.

Ya Allah berikanlah ampunan dari keseriusanku, sikap candaanku, kelalaianku dan perbuatan kesengajaanku.

Ya Allah, berikan ampuna dari setiap perkara yang aku lakukan maupun yang belum aku kerjakan. Dan apa-apa yang aku sembunyikan dan juga dari apa-apa aky tampakkan. Karena hanya Engkau lebih mengetahui.

Hanya Engkau Yang Maha Mendahulukan dan Maha Mengakhirkan. Dan Engkua jualah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (H.R. Bukhari dan Muslim)

X. Memulai Berdoa Dengan Mendoakan Diri Sendiri Baru Kemudian Orang Lain

Allah mengingatkan kepada hamba-Nya, sebagaimana telah tertuang dalam firmannya,

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. Hasyr: 10)

Hal senada juga dalam surah yang lain, Allah berfirman,

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ

Musa berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”. (QS. Al-A’raf: 151)

Dalam ayat yang lain juga Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 41)

XI. Menjauhkan Dari Makanan dan Harta yang Haram

Dari Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan hadist yang cukup panjang yang artinya:

Wahai sekalian manusia, ketahuilah sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Oleh karena itu Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula.

Dan juga sesungguhnya Allah azza wajalla telah memerintahkan kepada orang yang mukmin sebagaimana juga diperintahkan-Nya kepada para Rasul.

Firman-Nya, “Wahai para Rasul-rasul Allah makanlah dari sesuatu yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah perbuatan amal shalih. Karena sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang sedang kamu kerjakan.

Dan Allah juga berfirman, “Wahai orang beriman, makanlah dari rezeki yang baik sebagaimana yang telah kami karuniakan rezeki kepada kamu.”

Setelah itu Nabi menceritakan tentang seorang pemuda yang berjalan karena lama dan jauhnya jarak tempuh yang telah dilaluinya. Sehingga membuat rambutnya kusust lagi berdebu.

Kemudian orang tersebut mengangkat tangannya seraya berdoa, “Wahai Rabbku, Wahai Rabbku. Padahal pemuda tersebut makanan, minum, pakain dari suatu yang haram. Maka bagaimana mungkin Allah subhanahu wata’ala akan mengabulkannya. (HR. Muslim)

Referensi

[1] almanhaj.co.id

[2] konsultasisyariah.com

[3] muslimah.or.id

  •  
    28
    Shares
  • 27
  •  
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply