Arti, Hakikat dan Pengertian Cinta Sebenarnya

Arti Cinta – Apa sebenarnya arti cinta? Apakah ia merupakan suatu hal yang bisa dilihat, dirasakan dan disentuh?

Cinta bagaikan secangkir kopi tanpa gula. Apabila ia tidak diberi sentuhan gula maka pahitlah rasanya. Namun sebaliknya apabila ia diberikan sentuhan gula maka manislah rasanya.

Hidup tanpa cinta maka terasa hampa dan hambar. Bagaikan roda yang enggan untuk dikayuh, jantung seakan berhenti untuk berdenyut dan pikiranpun tak kunjung berarah.

Apalah jadinya jika hidup tanpa diiringi dengan cinta? Cinta itu bisa kepada wanita, tahta, harta, anak-anak, keluarga, orang tua dan juga berbagai kenikmatan dunia lainnya.

Namun sahabatku, cinta yang sejati nan hakiki adalah cinta kita kepada Rabbul ‘alamin yaitu cinta seorang hamba kepada pencipta-Nya. Inilah cinta tertinggi yang senantiasa kita terus berusaha menggapainya.

Allah subhanahu wata’ala telah menerangkan kepada kita tentang apa-apa yang diinginkan manusia dalam hal cinta. Dan ini sudah Allah tuangakan dalam kitab-Nya pada surah Ali Imran ayat ke-14 yang berbunyi:

 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

A. Arti Cinta

Arti Dari Sebuah Cinta

pixabay.com

Cinta adalah kata yang terdiri dari lima huruf yakni C I N T A. Dan saya yakin semua orang tentu pernah merasakan cinta. Namun juga banyak dari kita yang sulit untuk mendefinisikan makna cinta.

Bahkan ada sebagian dari kita juga punya pengertian tersendiri tentang cinta. Apabila bendera cinta sudah diangkat dan kemudian salah meletakkannya maka bisa jadi jeratan hukum syariat akan membelenggu kehidupannya.

Seperti halnya ada ungkapan dari seorang pezina, “Kami melakukan ini atas dasar cinta dan suka sama suka”. Begitu juga halnya dengan kecintaan yang berlebih seorang bapak/ibu terhadap anaknya.

Sehingga menjadikan anaknya terus dalam bergelimang dosa. Dengan alasan cinta juga tidak sedikit dari pasangan suami istri yang mana seorang suami rela melepas istrinya hidup dalam kemaksiatan tanpa rasa cemburu sedikitpun dalam hatinya.

Inilah merupakan makna cinta yang keliru. Sebab dia menjadikan hawa nafsu sebagai tolak ukur dalam memaknai cinta.

Kondisi seperti inilah yang nantinya setan akan terus berupaya menyesatkan manusia dengan landasan cinta.

Setan akan terus menabuh genderang dan mengibarkan benderanya untuk menyesatkan manusia. Seakan-akan manusia hanyut dalam kesesatan tersebut dan menjadikan itu sebagai hal yang lumrah atau biasa saja.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewanti-wanti kita agar tidak semata-mata cinta terhadap hak duaniwi saja sehingga kita takut akan datangnya kematian.

Sahabatku yang dicintai Allah subhanahu wata’ala

Pengertian cinta sangatlah sulit untuk dijelaskan terlebih lagi untuk diungkapkan. Sebab cinta itu sulit dijangkau dengan kalimat dan terlihat kabur saat diraba dengan kata-kata.

Berkata Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin, pengertian cinta tidak bisa didefiniskan dengan jelas dan juga tidak bisa menghasilkan sesuatu.

Semakin diperjelas maka akan semakin kabur dan tidak jelas. Jadi makna cinta adalah cinta itu sendiri.

Cinta adalah suatu amalan yang letaknya di qalbu (hati) kemudian diwujudkan dengan amalan lahiriyyah.

Apabila cinta yang telah kita tuliskan dalam hati dan pikiran dan itu sesuai yang diridhai oleh Allah subhanahu wata’ala, maka ketahuilah bahwa itu adalah ibadah.

Tapi sebaliknya, apabila ia tidak sesuai dengan ridha-Nya, cinta itu akan menjerumuskan kita dalam lembah kemaksiatan.

Sahabatku yang dicintai Allah subhanahu wata’ala

Inilah arti cinta sesungguhnya. Cinta adalah suatu ibadah. Yakni ibadah hati yang apabila kita melakukannya akan menambahkan ketentraman dan kenyaman serta kemesraan kita kepada Rabbul ‘alamin.

Namun apabila cinta salah dalam penempatannya maka ia akan menjerumuskan kita dalam hal yang dimurkai oleh Allah subhanahu wata’ala yaitu kesyirikan.

Sebab kita jadikan cinta itu sebagai suatu yang diagungkan secara berlebih. Sehingga lupa ada Allah subhanahu wata’ala, Tuhan Yang Maha Esa.

B. Hakikat Perjalanan Cinta

Hakikat Dari Perjalanan Cinta

pixabay.com

Sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita mendahulukan cinta kepada Allah subhanahu wata’ala dalam segala hal.

Cinta kepada Allah subhanahu wata’ala yaitu ditunjukkan dengan perbuatan dan amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .

Apabila kita melakukan suatu amalan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ketahuilah bahwa itu merupakan bagian dari kecintaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala .

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surah Ali Imran ayat 31 yang berbunyi:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Tentu dalam mencintai Allah subhanahu wata’ala maka kita ikuti dan laksanakan syari’at yang dibawakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah bukti konsekuensi cinta kita kepada Allah subhanahu wata’ala.

Sebagaimana yang telah kami jelaskan diatas bahwasanya cinta yang dibangun karena Allah subhanahu wata’ala maka akan menghasilkan suatu kebaikan yang sangat berharga.

Apabila kita mendasarkan cinta kepada Allah subhanahu wata’ala, niscaya hati akan menjadi tentram. Inilah yang dinamakan manisnya iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh sahabat nabi yaitu Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang berbunyi:

Tiga hal yang apabila terdapat pada diri seorang muslim, maka ia sesugguhnya merasakan dan mendapatkan manisnya iman yakni:

Hendaklah dia dahulukan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain. Hendaklah dia mencintai seseorang itu karena Allah dan hendaklah dia benci kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia dari kekukufuran dan sebagaimana ia juga benci jika dilemparkan ke dalam neraka. (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43).

C. Kedahsyatan Cinta

Kedahsyatan Dari Sebuah Cinta

pixabay.com

Kedahsyatan cinta kepada Allah akan berdampak pada ketengan jiwa dan hati. Sebab tiada sesuatu hal yang perlu dikhawatirkan oleh-Nya, karena Allah mengawasi-Nya.

Dahsyatnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya akan berdampak pada dirinya kelak di hari kiamat. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda yang artinya:

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menceritakan “Saat saya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari suatu masjid, kemudian kami berdua bertemu dengan seorang lelaki di depan pintu masjid.

Lantas lelaki tersebut bertanya, “Ya Rasulullah, kapan hari berbangki tiba?”, Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam balik bertanya, “Apa persiapanmu menghadapi hari berbangkit?”,

Sontak lelaki tadi pun bersedih dan berkata, “Wahai, Utusan Allah, saya tidak punya persiapan yang baik berupa shalat, puasa dan sedekah melainkan saya mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Mendengar hal ini Rasul pun menjawab, “Engkau akan dikumpulkan bersama dengan orang yang engkau cintai,” (HR. Bukhari dan Muslim, Shahih).

Sahabatku yang dicintai Allah subhanahu wata’ala

Bergembiralah bahwa Allah telah mengabarkan kepada kita apabila kita mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan tulus, maka kita akan ditempatkan pada derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata’ala.

Cinta sejati nan abadi adalah cinta yang dibangun atas dasar taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala.

Apakah cinta itu berkaitan dengan ibadah atau cinta atas dasar tabiat. Sebagaiman cinta kepada lawan jenis, anak dengan orangtua atau sebaliknya.

Apabila cinta tidak dilandasi ketaqwaan maka berujung kepada penyesalan, kepiluhan. Maka sudah sepantasnya lah kita sebagai hamba untuk menjaga dan memperhatikan apa yang dia hendak dia cintai.

D. Bentuk Cinta

Bentuk Sebuah Cinta

pixabay.com

Berkata Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah tentang 2 bentuk cinta kepada makhluk yakni:

1 Cinta Dengan Hal yang Bermanfaat (habbullah), inilah cinta kepada Allah subhanahu wata’ala. Cintaiyang demikian ini akan membantu kita dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala serat menjauhi segala macam kemaksiatan.
2 Cinta Dengan Suatu Hal yang Membahayakan (al-hubbu ma’allah), ini merupakan cinta yang melebihi bahkan menandingi kecintaan kepada Allah. Cinta model seperti ini adalah sangat dibenci Allah subhanahu wata’ala. Karena cinta ini akan memutus kecintaan dari Allah bahkan bisa mengurangi cinta kepada-Nya.

Simaklah penuturan Imam Ibnu Qoyyim tentang hakikat cinta,

Cinta merupakan suatu tempat persinggahan yang kemudian akan menjadi ajang perlombaan bagi siapa saja yang bersaing, sasaran mereka adalah amal, menjadi curahan yang mencinta, dengana angin sepoi cinta sehingga para hamba akan merasakan ketenangan.

Cinta juga santapan qalbu, gizi dan kegemaran jiwa. Dia ibarat suatu kehidupan, apabila tidak dimiliki maka tak ubahnya seperti ruh tanpa jasad.

Cinta merupakan penerang dikala gelap melanda. Apabila tidak dijaga. Dia bisa diibaratkan tengah berada di samudra yang gelap gulita.

Cinta juga sebagai obat penawar. Apabila tidak dimiliki oleh setiap jiwa maka beragam penyakit akan menghinggapinya.

Cinta merupakan suatu kenikmatan nan lezat. Apabila tidak dirasakan, maka hidupnya diwarnai dan dihantui kegelisahan dengan berbagai penderitaan.

Baca juga:
5 Tips Menajaga Keharmonisan Rumah Tangga Agar Semakin Mesra

E. Aktualisasi Sebuah Cinta

Aktualisasi Dari Sebuah Cinta

pixabay.com

Dalam membuktikan cinta maka dilaksanakan melalui amal. Tidakalah dianggap benar cintanya apabila tidak disertai dengan amalan yang nyata.

Begitu juga halnya iman yang tidak dibarengi dengan cinta maka amal tersebut tak ubahnya seperti tidak punya hakikat. Membuktikan cinta tidaklah hanya dengan kalimat yang berujar dari bibir.

Melainkan dibuktikan kepatuhan maupun ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala. Pernah seorang penyair bertutur:

“Apabila cintamu benar adanya pastilah engkau mentaatinya. Karena seorang pecinta akan selalu taat terhadap apa-apa yang dicintainya.”

Ada 10 hal yang menandakan bahwa seseorang tersebut memiliki cinta. Apa sajakah itu? Berikut ulasannya:

1

 

Senantiasa membaca Al Quran, menggali ilmu di dalamnya dengan cara memahami setiap ayat-ayat-Nya dan juga menjalankan apa yang diperintahkan oleh-Nya.
2 Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dengan mengerjakan amalan sunnah setelah amalan wajib.
3 Senantiasa mengingat Allah subhanahu wata’ala dengan terus menerus berdzikir dalam setiap keadaan.
4 Senantiasa mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Allah subhanahu wata’ala diatas bergejolaknya nafsu syahwat.
5 Hati yang senantiasa menggali asma Allah serta sifat-sifat-Nya.
6 Senantiasa menyaksikan segala bentuk kenikmatan Allah subhanahu wata’ala.
7 Tak berdaya hati dibawah kehendak Allah subhanahu wata’ala.
8 Senantiasa berkhalawat (menyendiri dalam bermunajat) dan bermuhasabah
9 Senantiasa bermajelis bersama dengan sekumpulan orang yang memiliki sifat cinta dan jujur.
10 Dan yang terkahir adalah menjauhi segala sebab yang akan merugikan dirinya dan mengahalangi hatinya dari Allah subhanahu wata’ala. (Disadur dari kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah)

 

F. Jenis-jenis Cinta

Macam-macam Cinta

pixabay.com

Adapun cinta terbagi menjadi 4 jenis. Ini kami ambil dari kitab Al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdulwahhab Al-Yamani. Beliau menuturkan:

Pertama adalah cinta ibadah yakni mencintai Allah dengan dalil yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadist.

Kedua adalah cinta syirik yakni cinta yang menduakan Allah.

Ketiga adalah cinta maksiat yakni cinta atas dasar melakukan apa yang dilarang dan diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Keempat adalah cinta tabiat yakni cinta kepada manusia, harta, tahta maupun perkara-perkara lain.

Apabila cinta tabiat ini melalaikan dan menyibukkan kita untuk beribadah kepada Allah, maka segeralah berubah.

G. Buah Cinta

Buah Dari Cinta

pixabay.com

Berkata Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu Fatawa beliau mengatakaan, “Ketahuilah bahwa Allah menggerakkan hati seorang hamba disebabkan karena 3 hal yakni cinta, takut dan harapan.

Yang paling kuat diatara 3 hal tersebut adalah cinta. Karena cinta itu sendiri merupakan suatu tujuan yang akan didapatkan di dunia amupun di akhirat kelak.

Inilah sekelumit tentang cinta maka sudah saatnya bagi kita untuk  kembali menata hati. Memperbaiki diri dan teruslah berupaya agar cinta kita selalu abadi.

Perhatikanlah cinta ini, tanamkanlah dalam diri dan aktualisasikan dalam kehidupan nyata.

Yakinlah bahwa dengan meraih cinta-Nya secara otomatis kita juga akan meraih cintanya makhluk Allah.

Apabila Allah berkehendak maka tiada seorangpun yang dapat menghalangi-Nya. Inilah cinta atas dasar ketaqwaan.

H. Konsep Cinta

Dari Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka.

Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).

 

  •  
    1
    Share
  •  
  •  
  •  
  • 1
  •  
  •  
  •  

7 Comments

  1. Amy Zet Ming, 22 Mei 2016
  2. Nurul rahmadani Sen, 23 Mei 2016
  3. Ferdian Sab, 21 Januari 2017
  4. ami ulandari Sab, 11 Februari 2017
  5. milla Sab, 25 Maret 2017
  6. tri Kam, 17 Agustus 2017
  7. galuh Sel, 22 Agustus 2017

Leave a Reply