Tentang Aku & Dia

Dari Thaisalah bin Mayyas, Ia berkata bahwa Ibnu Umar pernah bertanya :

“Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk surga?”

“Ya, Aku ingin”, jawabku.

Beliau bertanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup?”. “Saya masih memiliki seorang ibu”, jawabku.

Beliau berkata, “Demi Allah sekiranya engkau berlemah lembut dan bertutur kepadanya dan memasakkan makanan baginya, sungguh engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar. (Mendidik Anak Bersama Nabi, Muhammad Suwaid)

MasyaAllah, sungguh atsar diatas menjelaskan kepada kita bahwa sangat agung kedudukan orangtua. Dengan memuliakannya dengan sopan dan lemah lembut dapat mengantarkan kita ke surga-Nya Allah subhanahu wa ta’ala. 


Ada 3 poin tanda bakti kita kepada orangtua menurut Muhammad Suwaid dalam bukunya berjudul “Mendidik Anak Bersama Nabi”, diantaranya adalah:

  1. Mentaati perintahnya selama bukan perkara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.
  2. Mendahulukan perintahnya dari perkara yang hanya dianjurkan.
  3. Menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Dengan penjelasan diatas, sangat disayangkan jika kiranya kita mengabaikan dan menyakiti hati orangtua. Orangtua adalah sosok yang aku kagumi, berkat beliaulah akhirnya aku bisa tumbuh sampai sekarang. Dia adalah sosok yang penyabar, memberikan kebebasan kepada anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan. Sungguh pendidikan adalah suatu yang sangat ditekankan oleh kedua orangtuaku. Dengan tetesan keringat yang aku lihat, mata yang berkaca-kaca sungguh hati ini tidak bisa menahan bendungan kasih sayang yang mereka berikan kepada kami semua.

Pernah suatu ketika, saat itu sedang musim kemarau yang panjang di daerah kami. Hingga akhirnya kami sulit mandi, karena pada saat itu air sangat terbatas. Kemarau yang panjang tidak menurunkan semangat mereka dalam mencari air untuk mandi buat anak-anaknya. Hingga akhirnya kami mandi di sungai yang tidak jauh dari rumah kira-kira 500 meter. Sangat benar bahwasanya pengorban orangtua itu tidak bisa dinilai dengan harta. Tetapi yang mereka inginkan adalah kesetiaan kita kepada mereka. Dengan senyuman yang ikhlas sungguh sudah dapat menentramkan hati mereka. Itulah yang pernah mereka ungkapkan kepada kami semua.

“Nak, kami hanya bisa meyekolahkanmu, gunakanlah kesempatan berharga ini dengan sebaik-baiknya. Tuntutlah ilmu dan amalkan kepada yang lain, jangan pelit tebarkan senyuman, bertemanlah kepada siapapun. Tapi ingat meskipun engkau menuntut ilmu yang tinggi, semua itu tiadalah artinya jika engkau meninggalkan shalat.”

“Anakku, engkau tentu tahu latarbelakang pendidikan kami, jangan tiru kami. Tapi kalian mesti suskes dunia dan juga suskes di akhirat”. Inilah pesan yang selalu diucapkan oleh orangtuaku kepada kami semua. Pesan ini hampir setiap hari mereka ungkapkan kepada kami. Mereka tidak bosan mengucapkan pesan tersebut. Meskipun adakalanya kami merasa bosan mendengarnya. Astaghfirullah, ampuni dosa kami ya Allah.

Aku senantiasa berdoa dalam setiap sujud, karena ada hadist yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah saat ia sedang sujud” (HR. Muslim, Abu Dawud, lihat shahiihul jaami’ no.1775).” Maka dari itu agar kiranya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa-dosa ku, dosa-dosa kedua orangtuaku, lindungilah dia dan sayangilah dia sebagaimana dia menyayanangi kami sewaktu kecil. Sungguh doa ini tidak pernah aku tinggalkan.

jeshoots.com

jeshoots.com

Berikut untaian kalimat yang aku berikan untuk orangtua dengan judul

Untukmu

Sungguh aku belum tentu bisa memberikan indahnya masa depan.
Sungguh aku belum tentu bisa memberikan kecukupan.

Sangat banyak kasih dan sayang yang engkau berikan kepadaku.
Sangat sabar engkau mendidik aku hingga sekarang.

Aku sungguh malu.
Malu akan sikapku yang tidak bisa berbakti kepadamu.
Ucapanku yang selalu menyakiti hatimu.
Maafkanlah aku.
Maafkan atas ketidakbaktianku kepadamu selama ini.

Disaat sekarang ini.
Aku hanya bisa berbuat baik dan beramal shalih agar engkau juga mendapatkan kebaikan tersebut, insyaAllah.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply