Sabang, Kilometer 0 Indonesia

Setelah Isya tiba-tiba telponku berbunyi. kring . . . kring . .  kring . . . begitulah kira-kira bunyi handphoneku yang berdering. Aku lihat ternyata teman kampusku yang menelpon.

“Assalamu’alaikum Din, ini kami mau jalan ke pulau Sabang, ente mau ikut enggak?” Zikri nelpon.
“Wa’alaikumussalam Zik, pulau Sabang? Yang benar ni ente? Sama siapa?”, jawabku dengan cepat.
“Iya benar, kalau mau kita berangkat ni, nah aku sekarang sudah di Bus Simpati Star”, jawab Zikri.
“Cepat banget Zik. aku aja belum ada persiapan sedikitpun ini? Jawab dengan nada keheranan.
“Sudah, anak lajang manalah repot-repot kali bawaannya, nanti kalau ente jadi naik aja bus Simpati Star jurusan Aceh, nah sampai di Aceh. Ente telpon ane. Biar ane jemput”, Ungkap Zikri.
“Oke oke Zik, nanti ana putuskan, jika jadi perginya”, jawabku dengan kaget dan polos.

Tidak lama setelah dia menelpon, aku pun berpikir sejenak. Persiapan belum ada, terus bajuku pun belum disetrika. Tanpa pikir panjang, yasudahlah ku putuskan pergi malam itu juga dengan persiapan seadanya. Tepat pukul 22.30 malam aku berangkat dengan izin orangtua dan diantara sama abang ke terminal Simpati Star. Selama diperjalan menuju terminal, dalam hati aku berbisik. Ini kesempatan langka. Ada teman yang mengajak ke Pulau Sabang dengan biaya touring gratis. Terus yang paling mengesankan lagi adalah aku pergi ke ujung baratnya Indonesia??! Wah, gak boleh disia-siakan nih.

Tiketpun aku beli. Dengan harga yang sangat mahal sekitar 250.000 rupiah. Di tiket itu tertera berangkat pukul 23.30 WIB. Rasa was-was pun muncul. Bayangkan coba, disekitar aku penumpangnya itu bahasa Aceh, lah aku bahasa suku sendiri aja gak bisa. Saat mereka ngomong bahasa Aceh, ya aku tingak-tenguk aja lah.

Sirena pemberitahuan pun berbunyi dan suara yang bersumber dari Customer Service menginformasikan penumpang tujuan Aceh akan segera berangkat. Selama di Bus, aku hanya bisa tertidur aja, karena pada saat itu malam hari. Ditambah lagi badanpun sudah letih, ya sangat cocok sekali untuk tidur.

Perjalanan dari Medan ke Aceh memakan waktu sekitar 12-15 jam. Aku terbangun, matahari sudah kelihatan. Aku lihat sebelah kanan, ternyata aku masih di Meulaboh. Aku teringat tempat ini mengingatkanku akan kejadian tahun 2004 silam. Perjalalanku masih jauh sekitar 8 jam lagi. Untuk menghilangkan kebosanan, murottal Qur’an menemaniku sesampainya di Aceh. Waktu itu aku tiba di kota Banda Aceh jam 15.00 Wib. Sesampainya disana aku disambut dengan temanku Zikri. Dan kami pun pergi langsung menuju pelabuhan Balohan ke pelabuhan Ulee Lheue. Selama 1,5 jam kami berada di laut Aceh sambil memandangi birunya air dan hembusan angin yang sejuk. Sungguh panorama yang luar biasa dalam hidupku, hehe.

Sesampainya di pelabuhan Balohan, waktu itu sekitar pukul 6 sore. Kamipun langsung melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Dengan mengandalkan GPS dari teman, kami menelusuri jalan dengan hati-hati sambil melihat rambu-rambu lalu lintas dan petunjuk jalan. Terlihat oleh kami warung makan, kami berhenti dan makan malam sebentar. Setelah itu, kami melanjutkan perjalan hingga sampailah di penginapan. Meskipun hitammnya Siti Rubiah. Meskipun langit sudah menampilkan gemerlap bintang. Tidak membuat badanku ini langsung lelah. Akupun keluar dan melihat indahnya pantai Iboih di malam hari. Seorang anak berusia sekitar 17 tahun sibuk mencari siput di pasir pantai. Dengan riangnya dia mencarinya dilubang-lubang pantai. Jam sudah menujukkan pukul 23.30, saatnya tidur dengan mata yang sudah sayup.

IMG_20150605_064512

Pagi itu adalah hari jum’at. Selepas sarapan, aku langsung menyentuh dinginya air pantai Iboih. Tapi sayangnya, hari Jum’at dilarang bagi pengunjung untuk melakukan aktifitas di pantai. Rasa penyesalanpun muncul, meskipun begitu seketika itu juga temanku Zikri punya ide untuk mengajakku ke Kilometer 0 nya Indonesia. Dengan berbekal kendaraan bermotor yang kami bawa. Kami bergegas kesana dan melihat indahnya lautan Aceh dari sisi Kilometer 0 nya Indonesia. Tak lupa juga jeprat-jepret pun tak dielakkan untuk dijadikan kenangan dan memori terindah. Dan pemandangan sunrise yang sungguh menakjubkan. Menambah kesyukuranku terhadap ciptaan Tuhan.

IMG-20130310-01358

Alangkah ruginya jika sudah tiba di pulau sabang tidak mencoba diving. Melihat indahnya dunia bawah laut. Warna-warni dari berbagai jenis ikan. Saat itu aku diving sekitar pukul 8 pagi. Dengan memakai baju pelampung, selang oksigen dan sandal bebek akupun siap masuk ke dalam air. Aku lihat banyaknya ikan disisi kanan, kiri, depan dan belakang. Aku coba mengambilnya, tak satu pun ikan yang ku dapat, hehe. Karena airnya asin, sehingga sesekali aku kembali ke permukaan untuk menghirup udara segar. Tak terasa 2 jam lebih aku diving bersama dengan ikan-ikan yang cantik. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan untuk melihat biota di bawah laut yang sungguh menakjubkan.

kekayaan_laut_pulau_weh_diving-foto

Jika berkunjung ke pulau ini sungguh waktu 3 hari itu kurang puas. Karena masih banyak pulau yang indah dan pantai yang eksotis untuk dijejahi. Ya, meskipun begitu, aku kira cukuplah tiga hari ini di pulau ujungnya baratnya Indonesia sebagai tempat penyimpan memori terindah yang tak dilupakan. Cukup sekian pengalamanku di wisata kali ini. Terimakasih.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

4 Comments

  1. mangKoko Ming, 6 Maret 2016
    • Khair Ming, 6 Maret 2016
      • Star Sen, 18 Juli 2016
  2. Sie-Thi Nurjanah Sel, 29 Maret 2016

Leave a Reply