Putih Biru, Masa Dimana AKu Menemukan Sahabat Sejati

Masa-masa SMP – Masa studi yang paling indah yaitu masa-masa seragam putih biru. Masa ini menginatkan kembali arsip atau kenagan yang telah hampir hilang di pikiranku.

Aku dulu sekolah di SMP Swasta YPK Medan. Ya, aku menempuh studi disini selama 3 tahun, sama halnya dengan teman lainnya.

Di masa ini sungguh banyak cerita dan kisah yang patut ku ceritakan ke teman sekalian. Dimana masa ini masa yang sedang tumbuhnya benih-benih cinta dan emosi yang tidak stabil.

Setelah lulus sekolah dasar, aku pun melanjutkan studi ke sekolah menengah pertama. Awalnya orangtuaku sangat menginginkan aku sekolah di SMP Negri 2 Medan, ya bisa dibilang sekolah ini adalah sekolah favorit pada masa itu.

Karena pada saat itu aku pun masih lugu dan tidak tahu mengenai deskripsi  dari berbagai macam sekolah negeri. Ya aku mengikuti keinginan orangtua. Mendaftarlah aku di sekolah tersebut, besar harapan orangtua agar kiranya aku bisa masuk di sekolah favorit tersebut.

Dengan berbekal SKHU dan NEM yang ada ku pegang, kami menulis list pendaftaran. Satu minggu aku menunggu pengumannya. Deg-degkan pastinya, ya coba bayangkan bocah  ingusan mendaftar diri di sekolah favorit, lulus enggak yaa.

Itulah yang selalu ku pikirkan setiap saat. Hehe. Pengumumanpun tiba, aku lihat dengan seksama dari atas sampai bawah. Aku perhatikan satu persatu no urut dan nama. Dengan rasa penyeselan dan letih yang sangat aku tidak diterima.

Mungkin belum takdir aku kali ya masuk sekolah begituan. Kami pun pulang dan berdiskusi dengan orangtua, hingga akhirnya mamaku memutuskan aku sekolah di SMP YPK.

SMP

Perjalanan kisah hidupku pun dimulai. Sewaktu SMP aku tidaklah segemuk sekarang ini. Masa SMP ini banyak ku temukan orang-orang hebat dan menginspirasi. Serta juga aku menemukan sahabat pertama dan cinta pertama (cinta monyet). Hehe.

Aku duduk di kelas VII-D, pada saat itu wali kelasku adalah buk Jamilah. Ibu ini sangat baik dan perhatian. Sangat Jarang aku mendengar perkataan yang jelek dari ibu ini.

Dan begitu juga materi pelajaran Bahasa Indonesia yang diberikan beliau kepada kami. Tak satupun dari kami yang tidak paham dengan penjelasan yang diberikan. Dibangku ini juga aku mulailah tumbuh benih cinta, ya bisa dikatan emosi aku pada saat itu belum stabil dan itu sejenis cinta monyet lah, haha.

Ada satu teman ku yang kami selalu memperebbutkan posisi peringkat di kelas. Kalau aku mendapatkan peringkat dua ya di peringkat satu. Hingga akhirnya kompetisi prestasi ini bernagkit sampai kami duduk di kelas dua. Masa-masa kelas VII ini aku tidaklah sekatif kelas dua, aku sering berada di kelas dan sangat jarang ke kantin.

Aku mulai banyak mengenal lingkungan sekitar sekolah sejak duduk di bangku kelas VIII. Di kelas ini pertumbuhan sosial aku terbentuk, selain aku dapati sahabat sejati. Baca  selengkapnya disini Sahabat, Jangan Letih Menasehatiku .

Aku sangat aktif di ekskul pramuka. Dari pramuka  ini pelajaran banyak didapat, persahabatan, kekompakan, kedisplinan, tanggungjawab dan percaya diri dalam segala hal.

Pelajaran berharga tersebut ku dapati dari sosok seorang guru (red-kakak pembina) yang menginspirasi. Secara perlahan-lahan karakter aku terbentuk. Teman-teman yang baik pun banyak ku dapati di ekskul ini.

Benarlah apa yang dikatakan Imam Syafi’i , “Jika engkau mempunyai teman yang membantumu dalam ketaatan, maka ertakanlah peganganmu padanya, karena mendapat teman itu sulit, sedangkan berpisah dengannya sangat mudah.”

Aku berharap aku dan dia bisa terus memberikan masukan dan menasehati hingga nantinya kami dipisahkan oleh Yang Maha Kuasa.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply