Pengertian, Komponen dan Macam-macam Ekosistem Lengkap dengan Gambar

Macam-macam Ekosistem – Di sekeliling kita banyak sekali komponen lingkungan yang berkomunikasi, berinteraksi, saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Interaksi itu telah terjalin sudah cukup lama, sehingga terbentuklah sebuah keseimbangan.

Akan tetapi sungguh disayangkan, intervensi manusia telah menggangu bahkan merusak setiap tatanan dan keseimbangan yang terjadi. Sehingga butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaiki dan memulihkannya.

Di planet yang saat ini kita tempati terdapat beragam ekosistem. Namun, dari berbagai macam ekosistem yang ada sebagian darinya telah mengalami kerusakan akibat ulah tangan manusia.

Akibatnya timbullah berbagai kerusakan dan bahkan muncul permasalahan lingkungan akibat dari tidak seimbangnya interaksi yang terjadi di dalamnya.

Maka jangan heran apabila hewan yang awalnya berada di dalam hutan kemudian muncul secara tiba-tiba ke pemukiman warga. Inilah salah satu contoh rusaknya ekosistem di dalam hutan tersebut.

A. Pengertian Ekosistem

Dalam suatu daerah, lingkungan atau kawasan, misalnya hutan, kolam, danau, waduk dan lain sebagainya telah terjadinya interaksi antarkomponen biotik (makhluk hidup) dan komponen abiotik (makhluk tak hidup).

Contohnya sebuah tumbuhan memerlukan tanah, unsur hara, cahaya dan air untuk tumbuh. Lalu tumbuhan ini kemudian bisa menjadi sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya seperti hewan maupun manusia dan demikian seterusnya.

Peristiwa yang diatas tadi merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan dan biasanya kita kenal dengan ekosistem.

Suatu sistem ini terdiri dari berbagai komponen yang saling melengkapi dan bekerha terus-menerus dan teratur sebagai satu kesatuan yang utuh.

Sedangkan ekologi adalah ilmu sains yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme yang satu dengan tempat hidup atau habitatnya.

Jadi bisa diambil kesimpulan bahwa ekosistem adalah suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap komponen lingkungan hidup yang saling berinteraksi dan melengkapi sehingga terbentuk kesatuan yang teratur.

Kesatuan yang utuh dan teratur ini ada dalam bingkai keseimbangan yang bersifat dinamis. Arti dinamis disini adalah bisa saja sewaktu-waktu terjadi perubahan, baik besar maupun kecil yang disebabkan oleh tangan manusia.

Baca: Ulasan Lengkap Ciri-ciri dan Macam-macam Ekosistem Laut

B. Komponen Ekosistem

Komponen-komponen Ekosistem

slidesharecdn.com

Ekosistem bisa berbagai jenis bentuknya sesuai dengan bentangan ataupun hamparan tempat ekosistem berada. Contohnya ekosistem hutan, rawa-rawa, waduk, danau, hutan hujan tropis dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika diurutkan berdasarkan komponen terdiri dari komponen fisik atau tak hidup (abiotik) dan hayati atau hidup (biotik).

Komponen fisik atau tak hidup contohnya udara, angin, cahaya, air, tanah, curah hujan dan lain sebagainya. Semua wujud materi ini berbentuk energi dan materi dalam ruang lingkup ekosistem.

Komponen abiotik atau hidup dilihat dari struktur trofiknya, terdiri dari beberapa status sosial atau tingkatan, yakni produsesm konsumen dan pengurai. Sedangkan dilihat dari fungsinya terdiri dari dua komponen besar yaitu komponen autotrof dan heterotrof.

Baca juga:
Cara Terbaik Penanggulangan Hujan Asam

a. Produsen

Produsena merupakan suatu jenis organisme atau makhluk hidup yang mampu membentuk dan membuat makanannya sendiri dari berbagai zat organik dengan melalui proses fotosintesis dan klorofil.

Jenis organisme ini disebut autotrof sebab bisa dan mampu membentuk dan membuat makanannya sendiri serta juga bisa membantu kebutuhan makhluk hidup lainnya.

b. Konsumen

Konsumen merupakan sekumpulan atau sekelompok makhluk hidup yang memakan produsen dan hewan lainnya. Jenis kelompok ini tidak bisa membuat makanannya sendiri dari bahan-bahan anorganik. Sehingga dia sangat bergantung pada organisme produsen.

Komponen ini dikenal dengan heterotrof. Di dalam konsumen sendiri terdiri lagi beberapa tingkatan. Yakni hewan yang memakan organisme produsen disebut konsumen primer. Jenis hewan ini terdiri dari herbivora di dalam struktur trofik menduduki tingkatan trofik kedua.

Lalu konsumen yang memakan organisme herbivora disebut konsumen sekunder yang terdiri dari hewan karnivora maupun omnivora. Dan konsumen sekunder ini masuk ke dalam tingkatan trofik ketiga.

Umumnya hubungan antarkomponen biotik dalam suatu sistem ekosistem biasanya saling berkaitan dalam sistem rantai makanan. Rantai makanan yang saling berhubungan akan membentuk jaringan kehidupan yang baru.

c. Pengurai

Pengurai merupakan suatu jenis organisme yang tugasnya menguraikan sisa-sisa makhluk hidup lainnya yang telah mati menjadi zat-zat organik. Kemudian zat ini akan disimpan di dalam tanah lalu dimanfaatkan oleh tumbuhan sebagai bahan makanan (penyubur tanaman).

Contoh organisme pengurai adalah bakteri dan jamur. Kehadiran organisme pengurai sangat diperlukan bagi makhluk hidup.

C. Aliran Materi dan Energi Dalam Ekosistem

Produsen bersamaan dengan konsumen membentuk rangkai makanan lalu dibantu dengan pengurai sehingga terbentuklah daur materi. Sebuah ekosistem akan terbentuk dengan baik jika di dalamnya terdapat aliran materi dan energi.

Aliran materi akan mengalir dari mata rantai satu ke mata rantai lain dalam suatu rantai makanan. Materi adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang. Massa disini barmakna berat dan bisa ditimbang. Dalam peristiwa makan memakan, maka akan terjadilah pemindahan nateri dari organisne yang dimakan menuju ke organisme yang memakan.

Makanan yang dimakan oleh organisme mengandung energi untuk menjalankan aktifitas. Bersamaan dengan itu aliran materi juga ikut terbawa begitu juga dengan aliran energi.

Aliran energi adalah rentetan berurut dari pemindahan bentuk energi ke bentuk energi yang lain dan dimulai dari sinar matahari hingga ke produsen, konsumen tingkat tinggi sampai ke pengurai (saprina) di dalam tanah.

Siklus atau daur hidup ini berlangsung dalam tatanan ekosistem. Jadi, energi tidak akan hilang akan tetapi akan berpindah ke bentuk energi yang lain. Kalau dalam ilmu fisika disebut termodinamika. Yakni hukum kekekalan energi.

Hukum Termodinamika I menyatakan bahwa energi bisa diubah dari bentuk energi yang satu ke bentuk energi yang lain namun tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan.

Namun, Hukum Termodinamika II menyetakan bahwa tidak ada suatu proses pengubahan bentuk energi yang berlangsung secara sempurna. Dan proses pengubahan ini selalu meninggalkan sisa yang tidak terpakai pada proses tersebut.

Jadi sisa energi yang tidak terpakai ini disebut entropi. Atau dalam dunia industri disebut dengan limbah atau hasil pembuangan pabrik.

Sumber energi itu banyak jenisnya. Namun sumber energi utama di dunia adalah matahari. Karena seluruh komponen kehidupan memmbutuhkan dan memanfaatkan matahari dalam proses hidupnya.

Misalnya saja tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari untuk proses fotosintesis dan organisme lain membutuhkan sinar matahari untuk mengubah zat anorganik menjadi organik atau disebut dengan kemoautotrof.

D. Interaksi Antarkomponen Ekosistem

Interaksi Ekosistem

upload.wikimedia.org

Kualitas lingkungan hidup di lingkungan alami akan membentuk keseimbangan ekosistem apabila tidak diganggu dengan proses konversi energi. Artinya suatu ekosistem memiliki kemampuan untuk mempertahankan kondisi seperti semula apabila tidak diganggu oleh faktor external.

Kekampuan mempertahankan kondisi seperti semula menjadi tetap stabil dikenal dengan istilah stabilitas.
Akan tetapi beda halnya dengan bentuk ekosistem yang terbuka, materi dan energi akan terus mengalami proses konversi dan terus bertransformasi namun tetap bisa kembali menjaga keseimbangannya.

Bentuk interaksi ini dikenal dengan keseimbangan dinamis. Selama suatu ekosistem itu tidak diganggu oleh eksternal maka akan tetap menjaga keseimbangannya sendiri. Dan juga sebaliknya, apabila diganggu pihak luar seperti manusia dan gangguan itu melampaui batas, maka ekosistem tersebut tidak bisa kembali ke bentuk atau keadaan semula.

Suatu bentuk gangguan yang melampaui batas normal dan tidak bisa diimbangi oleh ekosistem itu sendiri disebut daya lenting ekosistem.

Daya lenting adalah lamanya waktu yang dibutuhkan oleh ekosistem untuk kembali normal atau kembali stabil atau suatu kemampuan ekosistem untuk memulihkan diri bila ada gangguan.

Contoh, apabila lingkungan alami diganggu oleh gangguan luar melebihi daya lentingnya maka akan timbul kerusakan lingkungan. Ini berarti bisa menyebabkan kualitas ekosistem tersebut terus turun.

Dalam suatu kawasan atau lingkungan yang normal atau alami, masing-masing komponen saling berinteraksi. Interaksi ini terjalin antara komponen abiotik dan biotik ataupun antar komponen dari dalam komponen tersebut.

4.1. Interaksi Komponen Abiotik dengan Komponen Biotik

Dalam kasus ini komponen biotik mayoritas dipengaruhi oleh komponen abiotik. Contoh, sebatang tumbuhan sangat bergantung dengan keberadaan dan petumbuhannya dari komponen abiotik, semisalnya tanah, air, udara, cahaya.

Adapun beberapa jenis tanaman hanya bisa tumbuh dan berkembang hanya di tanah tertentu saja. Begitu juga halnya persebaran tanaman dipengaruhi juga oleh faktor cuaca dan iklim. Misalnya, tanaman kelapa dapat tumbuh subur dan berbuah lebat hanya di daerah pesisir pantai akan tetapi tidak untuk daerah pegunungan.

Begitu juga sebaliknya, komponen abiotik dipengaruhi oleh komponen biotik. Karena keberadaan atau kehadiran tanah, udara, angin, air mempengaruhi kondisi tanaman atau tumbuhan.

Unsur hara yang cukup dan curah hujan yang stabil serta kondisi tanah yang bagus akan membuat tanaman tumbuh subur. Maka organisme seperti cacing akan menggemburkan tanah, menghancurkan sampah dan daun-daun serta menjadikan pengudaraan tanah menjadi lebih baik.

4.1.1. Interaksi Antarkomponen Abiotik

Ternyata antar komponen abiotik juga saling berinteraksi. Contoh, pada proses pelapukan bebatuan dipengaruhi oleh cuaca dan iklim. Cuaca dan iklim ternyata juga bisa mempengaruhi keberadaan air di suatu wilayah atau daerah.

Suhu udara di suatu tempat diipengaruhi oleh warna batuan dan begitu seterusnya. Dan sama halnya dengan kandungan mineral dalam air sangat dipengaruhi oleh bebatuan dan tanah yang dilaluinya.

4.1.2. Interaksi Antarkomponen Biotik

Antarkomponen biotik juga mengalami interaksi untuk memenuhi kehidupannya. Interaksi itu bisa berupa antara organisme, populasi, kelompok maupun komunitas.

4.2. Interaksi Antarorganisme

Pada hakikatnya setiap organis berinteraksi dengan antarorganisme ataupun dengan jenis lain. Namun interaksi antarorganisme ini dapat dibedakan menjadi 5 diantaranya:

4.2.1. Netral

Netral adalah interaksi atau hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam satu habitat yang sama dan bersifat menguntungkan serta tidak merugikan kedua belah pihak. Contoh, interaksi antar kambing dengan kupu-kupu.

4.2.2. Predasi

Predasi adalah interaksi atau hubungan antarorganisme mangsa dan pemangsa (predator). Artinya seekor pemangsa dalam hal ini hewan tidak bisa hidup apabila tidak ada yang dimangsa.

Maka apabila di suatu lingkungan jumlah mangsa telah habis maka pemangsa akan pindah, pergi atau bahkan punah. Tugas pemangsa ini bukan hanya makan tetapi juga sebagai pengontrol jumlah dari suatu populasi. Contoh, apabila jumlah ular sedikit di suatu kawasan maka jumlah ular akan bertambah. Begitu juga sebaliknya.

4.2.3. Parasitisme

Parasitime adalah interaksi atau hubungan antarorganisme yang berlainan spesies dan bersifat merugikan dari masing-masing spesies yang berbeda. Contoh, benalu dengan pohon dihinggapnya. Lintah yang menyedot darah, kutu, jamur ataupun cacing pita.

4.2.4. Komensalisme

Komensalisme adalah interaksi atau hubungan antara dua organisme yang masing-masing berbeda spesies, spesies yang pertama diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan.

Contoh, tumbuhan epifit yang menempal di batang pohon. Tumbuhan epifit akan mendapatkan cahaya di pohon yang ditumpungainya. Sedangkan batang pohon tidak merasa dirugikan.

4.2.5. Mutualisme

Mutualisme adalah interaksi atau hubungan antar dua organisme atau lebih yang berbeda jenis atau spesies dan saling menguntungkan antar kedua belah pihak.

Contoh, lebah dengan bunga. Lalu antar bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan. Kehadiran bakteri ini pada akar tanaman akan memberikan nitrat dan amonium sebagai mutrisi bagi bakteri dan kacang itu sendiri.

4.3. Interaksi Antarpopulasi

Pada umumnya interaksi antarpopulasi terjadi hanya pada populasi yang satu dengan yang lain. Danbersifat alelopati maupun kompetisi.

Adapaun interaksi alelopti adalah interaksi yang terjadi antarpopulasi yang terjadi apabila populasi yang pertama menghasilakn zat yang bisa menghambat tumbunya populasi lain.

Sedangkan interaksi kompetisi adalah interaksi yang terjadi karena ada kepentinga yang sama. Sehingga muncullah persaingan agar mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Studi kasus, interaksi alelopati yakni jamur Penicillium sp. Yang mampu menghasilkan zat antibiotika dapat menghalang dan menghambat pertumbuhan bakteri tertentu. Sedangkan interaksi kompetisi, yakni antar populasi kuda dengan sekumpulan kijang dalam memperoleh rumput.

4.4. Interaksi Antarkomunitas

Komunitas merupakan kumpulan populasi yang berbeda dan saling berinteraksi di dalam suatu wilayah yang sama. Contoh, area padang rumput yang dihuni oleh hewan pemakan rumput yaitu kuda, banteng, kelinci, rusa dan lain sebagainya.

Adapaun contoh lainnya komunitas sungai yang di dalamnya terdiri dari berbagai jenis ikan, buaya, ular, biawak , palnkot dan lain sebagainya. Jadi antar komunitas padang rumut dengan komunitas sungai akan berinteraksi.

Buaya memanfaatkan air untuk memangsa rusa yang minum di sungai dan ikan menjadi mangsa buat burung pelikan.

E. Macam-macam Ekosisem (Bioma) Beserta Gambar

Macam-macam Ekosistem dan Gambar

theteachersdeskinfo.files.wordpress.com

Nama lain dari ekosistem adalah bioma. Walaupun nampaknya bioma merupakan bagian dari ekosistem akan tetapi dalam dunia biologi sering juga menyamakan ekosistem dengan bioma.

Bioma adalah komunitas satuan di dalam ekosistem sebagai hasil interaksi atau hubungan iklim regional atau wilayah dengan biota (makhluk hidup) dan substratnya.

Jadi iklim ataupun cuaca sangat menentukan jenis biota yang hidup di suatu wilayah atau kawasan tersebut. Misalnya, wilayah padang rumput tumbuh di daerah yang memiliki curah hujan yang stabil.

Berdasarkan jenis atau macam-macamnya ekosistem dibedakan menjadi 2 jenis yakni ekosistem darat dan ekosistem perairan (ekosistem darat dan ekosistem air laut).

5.1. Ekosistem Darat

Ekosistem darat adalah lingkungan atau kawasan fisik yang berupa daratan. Dalam ekosistem terdapat sekumpulan atau sejumlah bioma.

Seperti yang telah dijelaskan diatas bioma identik dengan ekosistem, oleh karenanya kita mengistilahkan sejumlah ekosistem darat dengan bioma, diantaranya:

5.1.1. Bioma Gurun

Bioma gurun adalah suatu jenis ekosistem yang hanya terdapat pada daerah dengan curah hujan kurang dari 25 cm/tahun dan memiliki suhu yang tinggi pada siang hari yakni 45oC dan suhu rendah pada malam hari yakni 0oC.

Bioma gurun terdapat di sepanjang garis balik utara dan selatan dengan kondisi udara yang mengalami subsidensi (turun), sehingga terjadilah penempatan udara.

Selain di sepanjang garis utara dan selatan, bioma gurun juga bisa ditemukan di dekat arus laut dingin dan daerah bayangan hujan.

Jenis organisme tertentu saja yang bisa bertahan, baik itu hewan dan tumbuhan. Jenis organisme itu diantaranya kaktus, ular, kadal dan kelajengking.

5.1.2. Bioma Padang Rumput

Bioma Padang Rumput adalah jenis ekosistem yang memiliki curah hujan terbatas yakni 25 cm – 30 cm/tahun. Sehingga jenis ekosistem ini tidak bisa membentuk hutan.

Bioma padang rumput dapat dijumpai di daerah atau wilayah tropis dan sub tropis. Contohnya negara-negara Asia Tenggara dan sebagian negara Asia Utara.

Jenis tumbuhan atau tanaman yang dapat tumbuh adalah terna dan rumput dan hewan yang bisa bertahan yaitu rusa, zebra, jerapah dan sejenisnya.

Akan tetapi selain jenis hewan pemakan rumput juga terdapat pemangsa atau predator seperti anjing, hyena,, singa, serigala, ular dan lain sebagainya.

5.1.3. Bioma Hutan Basah

Bioma Hutan Basah adalah jenis ekosistem dengan curah hujan yang cukup lebat atau tinggi yakni 200 cm – 225 cm/tahun. Model ekosistem ini bisa dujumpai di wilayah tropis dan sub tropis.

Dengan curah hujan yang cukup tinggi sangat mendukung sekali tumbuhnya berbagai jenis tumbuhan. Dan bahkan ketinggian pohon bisa mencapai 40 cm dengan daut yang lebat hingga membentuk kanopi.

Suhu di wilayah bioma hutan basah sekitar 25oC dengan variasi yang cukup besar. Jenis tumbuhan yang khas di daerah ini adalah anggrek dan rotan.

Selain tumbuhan ada berbagai jenis hewan yang hidup dan bertahan di daerah ini yakni burung, kera, harimau, badak, babi hutan dan hewan sejenisnya.

5.1.4. Bioma Hutan Gugur

Bioma Hutan Gugur adalah jenis ekosistem yang memiliki iklim sedang atau wilayah yang beriklim 4 musim. Ciri-ciri bioma hutan gugur adalah memiliki curah hujan yang merata tiap tahun, pohon yang tumbuh tidak serapat dengan tumbuhan di bioma hutan basah.

Dan jenis hewan yang bisa dijumpai adalah burung pelatuk, beruang hutan, rubah, bajing dan rakon. Tidak sulit menemukan hewan disini, sebab jarak pohon yang cukup renggang serta pohon yang tinggi kurus menjulang ke atas.

5.1.5. Bioma Taiga

Bioma Taiga adalah jenis ekosistem yang memiliki ciri-ciri berdaun jarum (kolifer). Apabila kita melirik di sebelah selatan dari Tundra maka akan dijumpai jenis kelompok tanaman pohon jarum.

Batas antara dua jenis ekosistem Tundra dan Taiga disebut batas pohon karena wilayah ini masih memungkinkan tumbuhnya pepohonan ataupun tidak.

Taiga dikenal sebagai hutan yang hijau sepanajang tahun (evergreen) meskipun suhu mencapai di bawah nol saat musim dingin.
Adapun jenis tanaamn yang dapat tumbuh di jenis ekosistem ini adalah konifer, pinus dan sejenis dengannya. Dan sangat sedikit sekali dijumpa semak belukar ataupun rawa-rawa maupun tumbuhan basah.

Dan biasanyta kayu di hutan ini dimanfaatkan untuk pembuatan kertas, korek api dan kayu bakar. Kemudian yang bisa dijumpaii antara alin adalah moose, beruang hitam, ajag dab burung-burung yang berimigrasi ke selatan pada saat musim gugur.
Bioma taiga menyebar dapat ditemukan di daerah Semanjung Skandinavia, Siberia, Alaska dan Kanada.

5.1.6. Bioma Tundra

Bioma tundra adalah jenis ekosistem dengan wilayah yang tidak memiliki pepohonan. Wilayah ini bisa ditemukan di dearah kutub yang sangat dingin.

Dan jenis tumbuhan yang mampu bertahan di ekosistem ini hanya gulam dan lumut kerak dan tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu dengan batang pendek serta rumput.

Keadaan vegetasi bioma tundra terbilang mirip dengan bioma gurun perbedaanya hanya terletak pada jenis iklimnya yakni dingin.
Karena tidak banyak jenis pohon yang tumbuh di ekosistem ini tundra sering juga disebut gurun dingin (cold desert). Hewan yang mampu bertahan hidup diantaranya rusa kutub, muscox, beruang kutub dan nyamuk serta lalat.

Bioma tundra dapat dijumpa di daerah atau wilayah di bagian Skandinavia, Finlandia, Rusia, Siberia dan Kanada.

5.2. Ekosistem Air Tawar

Ekosistem air tawar adah jenis ekosistem yang memiliki ciri-ciri antara lain variasi suhu yang tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.

Pada ekosistem air tawar biasanya tanaman yang tumbuh dan sering dijumpai adalah ganggang dan tumbuhan biji.

Ekosistem air tawar dapat dikelompokkan berdasarkan sifatnya menjadi dua jenis yakni air tenang dan air mengalir. Danau serta rawa masuk ke dalam kategori ekosistem air tenang sedangkan sungai masuk ke dalam kelompok ekosistem air mengalir.

5.2.1. Ekosistem Air Tawar: Danau

Danau merupakan kumpulan air yang menggenang di atas wilayah depresi atau cekungan yang luasnya mulai dari beberapa meter persegi hingga ratusan meter persegi.

Kondisi danau jika dilihat dari kedalaman memliki perbedaan yang menyolok. Danau dengan kedalaman tertentu akan hidup tumbuhan dan hewan tertentu pula.

5.2.1.1. Ekosistem Air Tawar Berdasarkan Kedalaman dan Jarak

Oleh karenanya danau dibedakan lagi menjadi 4 daerah yang berbeda yaitu:

1. Daerah Litorial

Daerah litorial adalah bagian danau dengan kedalaman yang dangkal sehingga cahaya matahari mampu menembus sampai ke dasar danau secara optimal.

Jenis tumbuhan yang bisa tumbuh di daerah teritorial adalah tumbuhan air yang berakar dan daun yang mencuat ke atas permukaan air. Contoh, ganggang, siput, remis, ikan, amfibi, itik, angsa, kura-kura dan sejenisnya.

2. Daerah Limnetik

Berbeda dengan daerah litorial, daerah limnetik adalah daerah yang masih bisa ditembus oleh sinar matahari. Jenis hewan yang bisa ditemukan disini adalah fitoplankton. Dan fitoplankton dimangsa oleh udang kecil.

Sedangkan hewan kecil seperti zooplankton menjadi mangsa ikan-ikan kecil. Dan begitu seterusnya, yakni ikan kecil jadi mangsa ikan besar.

1. Daerah Profundal

Daerah profundal adalah daerah yang dihuni oleh hewan seperti cacing dan mikroba. Jenis daerah ini juga sering disebut dengan daerah afotik danau.

2. Daerah Bentik

Daerah bentik adalah daerah dasar danau yang dihuni oleh jenis organisme mati dan bentos.

5.2.1.2. Ekosistem Air Tawar Berdasarkan Produksi Materi Organik

Selain dibedakan berdasarkan kedalaman dan jarak, danau juga bisa dibedakan berdasarkan produksi materi organiknya, diantaranya:

1. Danau Oligotropik

Danau Oligotropik adalah jenis danau yang di dalamnya terdapat jenis hewan fitoplanklon namun tidak produktif sehingga kekurangan nutrisi. Keunikan danau ini yakni airnya yang sangat jernih, organisme yang hidup sangat sedikit dan terdapat oksigen yang cukup sepanjang tahun.

2. Danau Eutropik

Danau Eutropik adalah danau dangkal namun memiliki fitoplankton yang banyak dan produktif sehingga kaya akan nutrisi. Namun sayangnya danau ini memiliki air yang keruh, beragam jenis organisme dan cukup oksigen.

5.2.2. Ekosistem Air Tawar: Sungai

Sungai merupakan jenis ekosistem air tawar yang memiliki daerah yang cukup besar. Berbeda dengan danau yang airnya cenderung diam. Air sungai mengalir dari tempat tinggi ke permukaan yang rendah.

Sehingga tidak mendukung adanya hewan plankton di kawasan ini. Namun, tumbuhan seperti ganggang tetap bisa berkembang dengan adanya sinar matahari sehingga membantu proses potosintesis dan rantai makanan.

Akhir-akhir ini ekosistem sungai mulai mengalami gangguan karena pembangunan bendungan ataupun waduk. Keberadaan waduk dapat memutus rantai makanan sejumlah ikan yang bergerak dari hulu ke hilir untuk bertelur.

Akibatnya, banyak spesies ikan hilang dari alirang sungai. Contohnya yakni ikan sidat dan ikan pelus. Kedua ikan ini keberadaannya hampir punah. Sebab untuk bertelur ikan pelus meletakkan telurnya di laut dan untuk mencari makanan di sungai.

Contoh lain yakni ikan salmon. Ikan salmon pada dasarnya hidup di laut, namun pada saat musim bertelur ikan salmon akan bertelur di sungai sehingga akan bergerak menuju hulu dan untuk bertelur di sana.

Setelah menetas ikan salmon yang masih kecil hidup di sungai dan apabila sudah dewasa maka akan bergerak ke laut.

Baca: Ulasan Lengkap Ekosistem Air Tawar, Mulai dari Pengertian, Ciri-Ciri, Pembagian dan Contohnya

5.3. Ekosistem Air Laut

Sama halnya dengan darat, ekosistem air laut dibedakan menjadi 4 diantaranya:

5.3.1. Laut

Sebagaiman diketahui bahwa 2/3 dari bumi adalah laut. Air laut memiliki kadar garam atau NaCl yang sangat tinggi terutama laut merah. Air laut memiliki sahu yang bervariasi.

Di daerah beriklim tropis, suhu air laut bervariasi yakni mencapai 25oC dan suhu diatas dan di bawah permukaan memiliki perbedan yang cukup besar.

Bagian antara lapisan air hangat yang berada di bagian atas dengan yang dingin di bagian bawah dinamakan batas termoklin.

Ekosistem air laut berdasarkan letak kedalamannya dibedakan menjadi 4 wilayah yakni:

a. Wilayah Pasang (Littoral)

Wilayah pasang atau littoral merupakan bagian dari dasar laut yang kering jika terjadi surut. Jadi, ikan tidak bisa hidup di wilayah ini namun beberapa jenis binatang darat bisa dijumpai di wilayah ini.

b. Wilayah Laut Dangkal (Neritic)

Wilayah laut dangkal atau neritic adalah wilayah dengan kadar airnya sedikit sehingga masih memungkinkan sinar matahari tembus ke permukaan dasar laut. Indoensia sendiri memiliki beberapa wilayah laut yang dangkal.

Contohnya Laut Jawa, Natuna, Kepulaun Riau, Selat Malaka yang sering disebut dengan landas kontinen sunda. Dan Laut Arufu yang disebut dengan landas kontinen sahul.

Kedua wilayah diatas tentunya menyimpan pesona alam nerupa flora dan fauna. Ciri-ciri dari wilyah laut dangkal adalah:

  • Kedalaman hanya mencapai 150 meter.
  • Sinar matahari mampu menembus sampai ke dasar laut.
  • Dan banyak dihuni oleh beragam jenis hewan dan tumbuhan.

c. Wilayah Lautan Dalam (Bathyal)

Wilayah lautan dalam adalah wilayah laut yang berada pada kedalaman antara 150 – 800 meter. Jadi sangat sulit bagi sinar matahari yang tembus ke dasar laut seperti halnya pad wilayah laut dangkal.

Oleh karena itu, organisme yang hidup baik itu hewan dan tumbuhan lebih sedikit dibanding wilayah laut dangkal.

d. Wilayah Laut Sangat Dalam (Abyssal)

Wilayah laut sangat dalam adalah wilayah dengan kedalaman dibawah 800 meter. Dengan kedalam hampir 1 km tersebut sangat sulit bagi tanaman untuk dapat hidup maupun bertahan karena sumber cahaya tidak mampu menembusnya.

Sehingga jumlah hewan maupun tumbuhan sangat terbatas kecuali beberapa jenis hewan yang mampu bertahan di lingkungan tersebut.

5.3.2. Pantai

Pantai adalah bagian ekosistem laut yang terletak diantara 2 ekosistem yaitu ekosistem darat dan laut. Berdasarkan tata letaknya, ekosistem pantai berbatasan dengan ekosistem darat, laut maupun daerah pasang surut.

Karena tersebut jugalah pantai dipengaruhi oleh beberapa jenis siklus harian pasanh surut air laut.

Organisme tumbuhan maupun binatang yang bisa hidup beragam tergantung atau dilihat dari letak lokasinya. Untuk posisi bagian paling atas organisme yang biasanya hidup adalah ganggang, moluska dan remis.

Jenis organisme diatas tadi menjadi makanan yang empuk untuk kepiting dan burung pantai. Sedangkan untuk bagian tengah pantai hidup ganggang, porifera, anemon laut, remis dan juga kerang, siput serta beberapa jenis hewan kecil.

5.3.3. Estuari

Estuari adalah tempat bertemunya antara sungai dengan laut atau biasa disebut dengan muara. Sehinngga nutrisi yang dibawa bersamaan dengan proes erosi bisa memperkaya sungai maupun daratan.

Adapun salinitas di estuari dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut air. Di saat pasang, maka air laut akan masuk ke badan sungai untuk meningkatkan salinitasnya.

Namun pada saat surut, air sungai mengalir dengan volume yang cukup besar sehingga salinitasnya berubah menjadi rendah sampai menjorol ke arah laut.

Estuari merupakan tempat habitat organisme seperti rumput rawa garam, ganggang, fitoplankton, cacing, kerang dan beberapa jenis ikan.

Selain ini di estuari juga tempat kawin hewan  invertebrata dan ikan laut dan tempat makan bagi unggas.

5.3.4. Terumbu Karang

Terumbu karang adalah jenis ekosistem yang dapat dijumpai di daerah beriklim tropis dengan ciri-ciri airnya jernih, sehingga sangat mudah bagi sinar matahari untuk masuk atau menembus ke permukaan laut sehingga sangat mudah untuk terjadinya proses potosintesis.

Wilayah ini didominasi oleh karang atau koral yang masuk ke dalam kelompok Cnidaria. Terumbu karang terkenal dengan beragam jenisnya. Diantaranya ikan hias yang bernilai tinggi. Namun banyak dilihat karena ulah tangan manusia kondisi terumbu karang sangat memprihatinkan.

Berbagai jenis organisme lain yang bisa hidup diantaranya siput, ikan, landak laut, gurita, bintang kecil dan beberapa mikroorganisme.

Fungsi terumbu karang bagi hewan laut adalah dapat mengurangi dentuman ombak yang dapat merusak dan bahkan membunuh secara instan hewan laut kecil.

Pada saat sekarang ini terumbu karang terancam punah karena sebagian darinya diambil untuk bahan bangunan dan untuk barang hiasan. Selain itu ikan hias yang terdapat pada terumbu karang diambil secara berlebihan.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

3 Comments

  1. Tiwi Sel, 14 Maret 2017
    • Agus Sel, 14 Maret 2017
  2. SPIE Sel, 14 Maret 2017

Leave a Reply