Ayah, Biarlah Aku Menikah Dengannya Asalkan Engkau Tidak Dipenjara

Kehidupan ini seperti roda yang berputar, terkadang posisi berada diatas dan juga kadang dibawah. Inilah hidup memang berliku dan banyak ragamnya. Dikisahkan dari sebuah kisah nyata yang patut anda renungkan wahai pemuda-pemudi.

Suatu daerah di negara Arab Saudi tepatnya di kota Al-Qassim hiduplah seorang lelaki tua yang terhimpit hutang yang tidak terhitung jumlahnya, orang ini pun berhutang dengan seorang saudagar kaya yang usianya tidak jauh berbeda dengannya.

Pemilik hutang ini pun berkali-kali menagih ke pria tua ini karena sudah jatuh tempo. Dan sudah ditangguhkan beberapa kali namun tetap saja ia tidak dapat membayarnya. Hingga jatuhlah pada pilihan kedua yang apabila ia tidak mampu melunasi hutang-hutangnya maka ia harus masuk penjara.

Sang penghutang pun shock dan meminta pilihan lain. Karena sebelumnya pemilik hutang sudah tahu pria ini punya dua putri yang cantik, ia pun memutuskan untuk menawarkan kepada pria ini agar ia mau menikahkan salah satu putrinya kepada dia.

Suasanapun menjadi hening, lelaki penghutang ini terdiam beberapa saat hingga akhirnya ia pun mengatakan saya harus mengatakan hal ini kepada putriku apakah mereka bersedia atau tidak.

Lelaki tua tersebut pun menceritakan maksudnya kepada kedua putrinya. Putri pertama tidak bersedia menikah dengannya, ia tidak mau menghabiskan sisa umurnya dengan pedagang kaya yang berumur ini. Namun berbeda halnya dengan putri kedua, ia dengan nada yang polos menimpali Ayah, saya bersedia menikah dengannya asalkan kamu tidak dipenjara dan bebas dari lilitan hutang.

Ayah kedua putri ini menyampaikan kembali kepada pemilik piutang bahwa putri keduanya bersedia menikah dengannya. Maka tanpa basa basi pedagang tersebut mengatakan, itu lebih bagus, baiklah dengan ini kamu telah bebas hutang.

http://2.bp.blogspot.com/

                                                                                                                                                                                                 http://2.bp.blogspot.com/

Kesepakatan pun terjadi, maka pernikahan pun dilaksankan hari Jum’at. Kemudian telah sahlah putri keduanya miliki suami yang telah berumur.

Air mata tak bisa lagi dibendung oleh sang ayah. Dengan berat hati ia harus rela melepaskan salah satu putrinya kepad pedang kaya yang sudah tua.

Kehidupan baru pun dimulai oleh putri keduanya ini, tetapi setelah terjadi pernikahan yang sah kedua pasangannya ini tidak langsung tinggal satu kamar (kebiasaan orang Arab). Begitu juga selama seminggu pria berumur ini tidak langsung tidur bersama dan berhubungan suami istri dengan istri barunya.

Dan ia mengatakan kepada mertuanya bahwa ia akan pergi ke luar negeri (Jerman) untuk urusan dagangannya. Dan ia menjanjikan akan pulang dan berkumpul bersama istri barunya.

Akan tetapi Allah mentakdirkan pedagang tersebut sakit dan akhirnya meninggal dunia di luar negeri. Ia pun meninggalkan istri barunya yang belum pernah digauli tersebut untuk mewarisi seluruh hartanya yang melimpah.

Ini adalah buah dari taat kepada orangtua. Sang putri kedua tidak hanya mendapatkan harta yang melimpah namun juga mendapatkan kebaikan karena telah membebaskan ayahnya dari lilitan hutang.

Penyesalanpun dialami oleh putri pertamanya. Wahai pemuda-pemudi kita bisa ambil kesimpulan bahwa taat kepada orangtua demi kebaikan adalah lebih utama dari harta dan tahta serta niat yang tulus akan membuahkan hasil dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Kisah ini diambil dari Menantu Syaikh Utsaimin rahimahullah saat memberikan ceramah agama di Unaizah. Beliau Syaikh Dr. Sami bin Muhammad As-Saqir menuturkan ini berupakah kisah nyata yang saya melihat sendiri orangnya.

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

3 Comments

  1. Yusuf Saktian Jum, 25 Maret 2016
    • Khair Jum, 25 Maret 2016
  2. Novi Rab, 6 April 2016

Leave a Reply