Penjelasan Lengkap: Jamur Shiitake

Manfaat Jamur Shitake

Shiitake dengan nama ilmiah Lentinula edodes adalah jamur yang dapat dikonsumsi yang mulanya berasal dari Asia Timur (Jepang). Disebut jamur shitake jamur karena jamur ini tumbuh di batang pohon yang sudah lapuk.

Jamur shitake banyak dibudiayakan di Thailand, Sebagian wilayah Korea dan Jepang dan juga di alam bebas daerah pegunungan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Penyebutan jamur shitake di Tionghoa itu berbeda-beda, ada menyebutnya jamur harum, jamur musim dingin, jamur bunga. Perbedaan nama ini didasarkan pada motif retak-retak seperti mekar.

Di Indonesia kadang-kadang dinamakan jamur jengkol, karena bentuk dan aromanya seperti jengkol walaupun bagi sebagian orang rasa jamur ini seperti rasa petai.

Jamur shitake memiliki ciri-ciri yaitu tumbuh di permukaan batang kayu yang lapuk, bentuk batang melengkung, payung terbuka lebar, warna coklat tua dengan bulu-bulu tua dengan bulu-bulu halus di bagian atas permukaan payung sedangkan dibagian bawah payung berwarna putih.

Baca juga: Ulasang Lengkap 14 Jenis Jamur yang Layak Dikonsumsi dan Aman bagi Tubuh

Budidaya Jamur Shiitake

Rasanya yang lazit, enak dan harganya cukup mahal maka tepatlah jamur shiitake dijadikan makanan favorit. Apabila ditinjau dari sudut pandang ekonomi maka jamur ini memiliki prospek pasar yang menjanjikan dan juga ditambah dengan khasiatnya yang luar biasa.

Kesempatan kali ini kita akan mencoba membahas cara membudidayakan jamur shiitake baik dengan cara tradisional, konvensional maupun sampai dengan semi-modern.

CAra tradisonal dapat dilakukan dengan menggunakan pohon atau batang kayu yang telah dikeringkan. Kemudian cara konvensional dengan memanfaatkan serbuk kayu.

Bahan maupun perlengkapan yang dibutuhkan tidak begitu sulit ditemukan. Masalahnya hanya pada posisi letak dan kondisi cuaca saja. Berikut penjelasannya:

1. Syarat Tumbuh

Jamur shiitake bisa tumbuh pada suhu 24oC sampai 28oC. Namun pada pembentukan badan atau tubuh jamur ini membutuhkan suhu khusus yakni 25oC. Pada cuaca ini dapat dijumpai di area dataran tinggi namun bukan berarti di daratan rendah tidak bisa.

Di daerah Klaten, Jawa Tengah diinformasikan jamur shiitake dapat tumbuh pada rentang kelembapan 85-90% namun berbeda halnya dengan petani jamur di daerah Bandung, Jawa Barat yang meggunakan kelembapan 90-96%.

Tetapi hal yang perlu diingatkan kelembapan yang terlalu tinggi akan menyebabkan buah tidak berbentuk dan payungnya akan basah. Dengan begitu jamur shiitake tidak akan bertahan lama alias mati.

Begitu juga halnya kelembapan dibawah standar juga akan menyebabkan payung menjadi tidak sempurna alias pecah-pecah. Adapaun tata letak tidak menjadi suatu persoalan karena dapat tumbuh di area tebuka di bawah naungan pohon maupun daerah tertutup di bawah atap rumah.

2. Media Tanam

Jamur shiitake secara alami dapat tumbuh di area pohon yang telah mati. Sehingga banyak ditemukan jamur shitake hidup di bagian kayu glodongan ataupun pohon yang telah mati.

Semua jenis kayu dapat dijadikan sebagai media tanam atau tumbuh namun akan lebih baik menggunakan kayu sejenis pasania, castanea, cyclibalanopsis, carpinis maupun albasia dan bahkan waru.

Karena jenis kayu tersebut sangat cepat mengalami proses pengomposan. Untuk daerah yang jauh dari sumber kayu maka bisa juga menggunakan media serbuk kayu. Serbuk kayu ini bisa dari jenis kayu manampun.

Namun lebih baik menggunakan kayu yang lunak dan bukan berarti jenis kayu keras seperti mahoni, jati, borneo, rambutan tidak bisa. Kesemuanya bisa namun lebih utama saja.

Penanaman kayu dengan jenis glondongan yaitu dengan cara melubangi kayu dengan membor atau sejenisnya dengan diameter 1 cm hinggga ke dalam 2,5 – 3 cm dengan jarang perlubang 10-15 cm.

Namun ingat sebaiknya kayu sudah dalam keadaan kering agar tidak tumbuh sel-sel atau tumbuhan yang tidak dikehendaki. Pada lubang tersebut diisi bibit jamur hingga penuh. Untuk mengambil bibit dapat digunakan pinseta atau lidi. Dan untuk menutup lubangnya bisa gunakan gabus atau kapas.

Namun ingat sebaiknya kayu sudah dalam keadaan kering agar tidak tumbuh sel-sel atau tumbuhan yang tidak dikehendaki. Pada lubang tersebut diisi bibit jamur hingga penuh. Untuk mengambil bibit dapat digunakan pinseta atau lidi. Dan untuk menutup lubangnya bisa gunakan gabus atau kapas.

Penanaman dengan cara konvesial dapat dilakukan dengan cara mencampurkan serbuk gergaji/kayu dengan beberapa bahan lainnya. Seperti 100 kg serbuk kayu/gergaji, 10 kg bekatul atau dedak, 0,5 kg CaCO3.

1,5 kg CaSO4 dan 0,5 kg pupuk TSP. Tambahkan bahan tersebut dengan air sebanyak 40-45% tergantung pada kelembapan serbuk dan cuaca.

Adapun penambahan CaCO3 sebaiknya menggunkan ukuran 400 mesh agar reaksi pencampurannya bagus. Dan serbuk yang digunakan akan lebih baik diayak terelebih dahulu untuk menghindarkan adanya benda tajam yang dapat menusuk kantung plastik.

Namun dapat juga dengan menggunakan sisa-sisa kapas atau kertas ditambah dengan bekatul sebanyak 1 bagian sebagai media alternative. Ingat bekatul yang digunakan memang benar-benar dari kulit ari beras bukan bekatul dari sekam yang telah digiling.

Tambahkan gula sebesar 0,5 kg (0,5 %) dengan persentase 100 kg serbuk ditambah seperseluh bekatul dari serbuk sebagai sumber nutrisi bagi jamur.

Selain bahan diatas juga diperlukan alat seperti timbangan, kompor, Bunsen, hygrometer, pinset dengan panjang 25 cm, sumpit,plastik kantung dan ring denga diamteter 4-5 cm.

3. Pengomposan

Ada dua tahap dalam proses pengomposan yakni secara bertahap dan pre pengomposan. Pertama ditimbang bahan sesuai formula. Bahan diluar TSP diaduk secara menyeluruh. Masukkan TSP dan rendam dengan air sebanyak 40-45% selama semalam.

Apabila campuran berbentuk gumpalan maka sudah benar dan siap dimasukkan ke dalam bagian kantung.

Ada cara yang lebih praktis dan efisein yakni dengan mencampurnkan seluruh serbuk kayu, kapur bangunan 2% dan air sebanyak 2- hingga 25 % ke dalam ember atau sejenis, tunggu hingga 3 hari.

Kemudian bahan yang kering tanpa TSP dicampurnkan menjadi satu ke dalam kompos serbuk gergaji hingga menjadi rata. Baru kemudian diaduk secara merata dengan larutan air TSP sebesar 20-25%.

Apabila sudah menggumpal dan juga meneteskan air maka siap dikantungi. Pastikan kadar pH kompos tersebut diukur dengan kertas lakmus. Jika pH dibawah 6-7 maka tambahkan CaCO3 secara merata.

Yaitu dengan meneteskan sedikit demi sedikit hingga kadar pHnya netral yaitu ditandi dengan ph 7. Namun apabila terlalu becek maka bisa dihamparkan di lantaii sampai mendapatkan kondisi ideal.

4. Pemberian Kantung

Pada tahap yang ke-4 ini yakni menggunakan kantong plastik jenis pp dan dipadatkan dengan bagian pantat botol bekas yang sebelumnya telah diisi pasair.

Pada bagian atas kantung dipasang ring lalu diberi lubang sedalam ¾ tinggi media bibit. Terus kantung ini disumbat dengan kapas pintal.

Untuk mengecek apakah campuran yang telah dibuat benar maka dapat dilihat dengan jumlah kantung yang terisi. Apabila kantung tersebut terisi sebanyak 180 kantung dengan bobot perkantung 1 kg maka campuran sudah benar.

5. Pasteurisai

Pasteurisasi dapat dilakukan dengan cara mengukus kantung selama kurang lebih 8 jam pada suhu 90oC-95oC. Apabila tidak ada kukusan dapat juga direbus dengan air pada suhu 95oC selama 4 jam.

Apabila telah selesai dikukus maka selanjutnya tempatkan pada ruang inokulasi agar dapat disterilkan. Namun pastikan ruang tersebut sudah bersih dan steril dengan menyemprotkan alkohol kadar 96% dan formalin 2% ke dalam ruangan selama 2 hari.

Setelah itu gunakan pinset untuk mengambil bibit untuk dimasukkan ke dala lubang dengan suhu 25oC-28oC tanpa sinar matahari. Lalu setelah 5 minggu baru kemudian diberikan cahaya yang baru.

6. Pemeliharaan dan Perawatan

Kantung sebaiknya diletakkan pad arak-rak tersendiri dengan ukuran rak 3×1 meter. Dapat digunakan bambu atau sejenisnya. Setiap rak dibuat sebanyak 3 sampai 4 tingkat sehingga tanaman bisa mencapai seluas 9 sampai 12 m2.

Umumnya selama rentang waktu 2 minggu miselium akan tumbuh bahkan pada hari ke 60-74 miselium sudah menutup seluruh media tanam. Nah, pada hari tersebut sudah bisa dibuka tutup kantung agar pertumbuhan badan jamur menjadi sempurna.

Apabila terlihat kering maka bisa disemprotkan dengan air sumur atau PAM jangan gunakan sembarang air. Seperti halnya air ledeng karena memiliki kandungan clorin yang cukup tingggi.

Perhatikan cahaya yang masuk jangan terlalu banyak sebab jamur sangat peka terhadap cahaya. Maka dari itu media tanam harus selalu dijaga secara hati-hati.

Apabila tahap pasteurisasi dilakukan secara baik dan benar maka bisa dipastikan tidak ada penyakit yang menyerang pertumbuhan jamur shiitake. Kemudian apabila terjadi kontaminasi yang disebabkan karena peralatan dan atau saralan lainnya segera dibuang agar tidak menular.

Ingat seluruh peralatan harus dalam kondisi bersih. Dan jika terdapat media tanam yang tidak ditumbuhi miselium maka sebaiknya dibuang saja karena setelah 5 hari kantung dibuka maka 2 minggu setelahnya jamur shiitake siap dipanen.

7. Pemanenan

Apabila keenam tahap diatas dilakukan dengan baik dan benar maka selama 12-16 bulan berturut-turut jamur shiitake siap dipanen. Tapi ingat selama pemanenan kelembapan jamur shiitake tetap dijaga.

Jamur shiitake yang siap panen dapat dilihat dari bagian bawah payungnya yang tidak mencengkram. Pemanenan dapat dilakukan dengan pisau yang tajam.

Pemanenan jamur shiitake yaitu dengan meotong seluruh bagiannya jangan hanya bagian bagian atas atau payungnya saja karena bisa mempengaruhi jamur lainnya.

Setalah dipetik segera masukkan ke dalam keranjang agar tidak kotor sebab jamur tidak perlu dicuci. Jamur shiitake yang bagus mampu bertahan selama 7 hari pada suhu ruangan.

Pemanenan dapat dilakukan selama 1-14 hari untuk kemudian dapat dipanen lagi hingga 6 kali. Dalam satu kantung mampu dipanen hingga 200 gram jamur.

5 Tips Memilih dan Memasak Jamur Shiitake

1. Dalam memasak jamur shiitake yang kering terlebih dahulu direndam ke dalam air panas selama 20 menit dan air rendaman ini dapat digunakan dan disimpan untuk kaldu.

2. Perhatikan jamur shiitake yang kering dapan keriput dan berlendir maka sebaiknya dibuang karena sudah tidak layak pakai.

3. Jamur shiitake yang segar jangan dicuci maupun direndam karena jamur sendiri mengandung air sebaiknya cukup disikap saja dengan kain halus yang telah dibasahi.

4. Jamur shiitake segar disimpan di kulkas dengam bungkusan kertas sedangkan shiitake ekring disimpan dengan wadah tertutup di dalam kulkas atau freezer.

5. Bagian batang jamur shiitake kurang enak dijadikan bahan makana namun akan lebih enak dijadikan kaldu sayuran.

Leave a Reply