Dia adalah Guruku

Seorang guru ialah pahlawan sepanjang waktu, bukan pahlawan yang hanya diingat dan dihargai pada waktu tertentu. Kedudukannya sangat mulia karena ilmu yang dimilikinya berguna bagi generasi penerus bangsa. Benar apa yang dikatakan sebagian orang, bahwa setinggi apa pun kedudukan, jabatan, pangkat ataupun harta seseorang tiadalah terlepas dari peran seorang guru. Itulah yang membuat aku kagum dengan sosok seorang guru yang satu ini.

Kisah ini bermula saat aku duduk di bangku kelas VIII-A tepatnya di sekolah SMP Swasta, Yayasan Pendidikan Keluarga (YPK) Medan. Sewaktu duduk di bangku SMP. Banyak guru yang kenal diantaranya Pak Iryuha Tantawi, Pak Zul Alpian, Bu Rahma dan masih banyak lagi. Dari sekian banyak guru itu ada satu guru yang ku kagumi. Yaitu Pak Iryuha Tantawi. Ya, sebut saja panggilannya pak Ir.

Di mataku, beliau adalah sosok yang baik. Tutur katanya bagus, humoris dan juga penyayang. Pernah suatu kali aku ditegur, ya pada saat itu pelajaran agama. Karena beliau juga guru agama jadi pas banget. Saat Pak Ir mengajar pelajaran agama mengenai surat Al Insyirah, aku tuh sudah hapal jadi saat dibacakan bersama-sama aku tidak ikut melihat mushaf Al Qur’an. Ya, ditegur deh. “Kamu kenapa gak lihat mushaf”. Ujar Pak Ir. “Aku sudah hapal pak!”. Ku Jawab. “Meskipun kamu sudah hapal tetap liat mushaf!!”. Langsung deh aku terdiam sambil mengucap pelan, “iyaa pak”. Nah, itu adalah kesan pertama aku sama beliau.

Sembilan tahun lebih aku mengenal Pak Ir. Pengalaman dan nasehat banyak beliau sampai kepadaku. Pernah suatu hari, beliau sharing pengalaman hidup. Bahwasanya dalam menjalani kehidupan, setiap dari kita mesti punya tujuan hidup, target hidup dan peningkatan kehidupan. Jangan sampai berjalannya waktu habis begitu saja tanpa ada peningkatan yang berarti. Sedikit atau banyak mesti ada perubahan yang bagus dalam diri. Kita sebagai makhluk sosial jangan pernah mengabaikan hal yang disekeliling kita. Bertemanlah dengan baik dan bersosiallah dengan ramah. Itu adalah nasehat beliau kepadaku saat aku berkunjung ke rumahnya.

Selama tujuh tahun lebih aku bersama beliau di dunia kepramukaan. Ketegasan dan kedisiplinan selalu beliau tekankan kepadaku. Contohnya saja, jika ada kegiatan pramuka yang molor sedikit saja waktunya dari jadwal, beliau akan menegur dan menasehatiku. Bahwa apa yang sudah dijadwal diawal rapat harus dilaksanakan dengan tepat waktu. “Waktu itu sangat berharga, Khair, jadi jangan pernah dibuang begitu saja”. Itu adalah mutiara nasehat yang tak pernah hentinya beliau ingatkan kepadaku.

madina2013.com

madina2013.com

Hampir dalam setiap keputusan, aku selalu meminta nasehat beliau. Misalnya, mengenai program sintesa ini. Aku jelaskan ke beliau, secara detail program ini dan meminta tanggapan beliau. Alhamdulillah beliau memberikan respon yang baik. Ya, sosok guru yang baik di mataku adalah beliau. Beliau tidak hanya sebagai guru yang mengajarkan pelajaran agama islam, tetapi juga guru yang menyayangi muridnya dan tentu yang paling utama apa-apa yang disampaikan beliau selalu diiringi dengan perbuatan dan akhlak yang baik. Serta juga senyuman yang penuh dengan kasih sayang. Benarlah apa yang dikatakan seorang ustadz Aan Chandra Thalib “Sebagian orang menganggap bahwa kewibawaan itu dengan bermuka masam, tetapi ketahuilah saudaraku … bahwa manusia yang paling mulia dan berwibawa adalah yang selalu menebarkan senyum dan salam kepada siapa saja.

Baca juga Si Coklat Muda Yang Keren

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply